Kamis, 12 April 2012

Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluarga Dengan Diet Hipertensi Pada Lansia


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup dominan dan perlu mendapatkan perhatian, sebab angka prevalensi yang tinggi dan juga karena akibat jangka panjang yang ditimbulkan mempunyai konsekuensi tertentu.  Penyakit hipertensi seringkali tidak mempunyai tanda atau gejala atau sering juga disebut “silent killer” atau penyakit yang membunuh secara diam-diam atau terselubung. Masyarakat tidak menyadari kalau mereka menderita hipertensi sampai terjadi gangguan pada jantung , otak atau ginjal (Susalit, 2001).     
Belakangan ini semakin berkembang produk-produk suplemen  oral dan enteral yang bisa dibeli di toko-toko kesehatan (healt stroke) atau melalui multilevel marketing. Suplemen tersebut adalah (1) karbohidrat, misalnya suplemen glukosa, fruktosa; (2) protein, misalnya, suplemen asam amino esensial atau asam amino dalam siklus Krebs seperti ornitin, ornitin, arganin serta sitrulin; (3) lemak, misalnya, suplemen asam lemak omega-3 atau asam gama-lenolenat; (4) vitamin serta mineral yang bersifat antioksidan,misalnya suplemen kombinasi beta-karoten, vitamin E, C, seng serta selenium; dan bahkan (5) sera makanan (dietary fiber), misalnya apple pectin serta psyllium (Sediaoetama, 2004).
Dalam masyarakat luas, produk suplemen makanan di atas kadang-kadang secara keliru dan berlebihan diiklankan sebagai obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Kini semakin banyak orang dalam masyarakat modern yang mengkonsumsi produk suplemen makanan bila dibandingkan satu atau dua dasawarsa sebelumnya. Kenyataan ini mungkin berkaitan pula dengan publikasi hasil-hasil penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa makanan sesungguhnya mempunyai peranan yang penting dalam pencegahan dan pengobatan sejumlah penyakit, khususnya penyaki-penyakit degeneratife, metabolic, vaskuler serta jenis-jenis kanker tertentu yang insidensinya sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas semakin meningkat dalam masyarakat modern. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perbaikkan diet khususnya penurunan asupan lemak serta peningkatan konsumsi buah serta sayur-sayuran merupakan cara yang paling efektif untuk memperbaiki kesehatan dan mengurangi risiko penyakit. Dan bagi mereka yang tidak suka makanan sayuran dan buah, suplemen di atas kemudian dijadikan pengganti (Sediaoetama, 2004).
Teori yang sejalan antara lain, Dr. Yekti Susilo (2011), pada umumnya orang yang menyukai makanan asin dan gurih, terutama makanan-makanan cepat saji yang banyak mengandung lemak jenuh serta garam dengan kadar tinggi. Mereka yang senang makan-makanan asin dan gurih berpeluang besar terkena hipertensi. Kandungan Na (Natrium) dalam garam yang berlebihan dapat menahan air (retensi) sehingga meningkatkan jumlah volume darah. Akibatnya jantung harus bekerja keras memompa darah dan tekanan darah menjadi naik.
Selain itu pola gaya hidup seseorang, mempunyai peranan  yang sangat penting dalam terjadinya penyakit hipertensi. Faktor ketidakseimbangan makanan, baik kualitas maupun kuantitasnya akibat gaya hidup seseorang merupakan faktor terjadinya resiko penyakit degeneratif termasuk hipertensi. Pola konsumsi yang salah seperti banyak makan dengan pemilihan menu makan yang banyak mengandung lemak, kolesterol hal itu merupakan kebiasaan yang buruk dilakukan di rumah, restoran, pertemuan-pertemuan, maupun di pesta. Perilaku demikian dapat berakibat terjadinya penumpukan lemak tubuh yang merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi (Nurochmah, 2001).
Seiring dengan perubahan zaman, terjadi transisi epidemologis dari penyakit infeksi dan parasit menuju ke penyakit degeneratif. Peningkatan insiden penyakit sistem sirkulasi memunculkan dugaan bahwa bukan tidak mungkin suatu saat di Indonesia, penyakit sistem sirkulasi menduduki tempat pertama penyebab kematian umum menurut pola penyakit utama, menggantikan posisi penyakit infeksi dan parasit (Raflizar, 2000).
Di negara berkembang, salah satunya Negara Indonesia walaupun penyakit hipertensi merupakan penyakit yang dikenal luas dikalangan masyarakat umum, namun kurang dipahami, dan penderita cenderung mengabaikan faktor resiko yang ditimbulkan. Penyakit hipertensi seringkali tidak mempunyai tanda atau gejala atau sering juga disebut “silent killer” atau penyakit yang membunuh secara diam-diam atau terselubung. Masyarakat tidak menyadari kalau mereka menderita hipertensi sampai terjadi gangguan pada jantung , otak atau ginjal (Susalit, 2001).    
Data Joint National Committee on Prevention detection, Evaluation, and Treatment on High Blood Pressure 7 (JNC 7) mengungkap, penderita hipertensi di seluruh dunia mendekati angka 1 miliar. Artinya, 1 dari 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi. Lebih dari separuh atau sekitar 600 juta penderita, tersebar di Negara berkembang, termasuk Negara Indonesia. Angka ini menunjukkan, hipertensi bukan hanya masalah Negara-negara maju. Banyaknya penderita hipertensi diperkirakan sebesar 15 juta bangsa Indonesia tetapi hanya 4% yang controlled hypertension. Yang dimaksud dengan hipertensi terekendali adalah mereka yang menderita hipertensi dan tahu bahwa mereka menderita hipertensi dan sedang berobat untuk itu (Bustan, 2007).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup dominan dan perlu mendapatkan perhatian, sebab angka prevalensi yang tinggi dan juga karena akibat jangka panjang yang ditimbulkan mempunyai konsekuensi tertentu (Soeparman, 2001).
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 8.3% (pengkuran standart WHO yaitu pada batas tekanan darah normal 160/90 mmHg). Pada tahun 2000 prevalensi penderita hipertensi di indonesia mencapai 21% (pengukuran standart Depkes yaitu pada batas tekanan darah normal 139 / 89 mmHg). Selanjutnya akan diestimasi akan meningkat menjadi 37 % pada tahun 2015 dan menjadi 42 % pada tahun 2025 (Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), 1995).
Menurut data yang diperoleh dari dinas kesehatan kota jambi jumlah penderita hipertensi tahun 2010 sebanyak  28.681 jiwa,  sedangkan tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebanyak 30.173 penderita  hipertensi, dan terbanyak di puskesmas olak kemang dengan jumlah penderita ditahun 2011 sebanyak 3.827 penderita. Kemudian disusul puskesmas Rawa Sari dengan jumlah penderita 3.740 jiwa per tahun ( Dinkes Kota Jambi, 2012 ).
Berdasarkan survei awal pada bulan Maret 2012 di puskesmas rawasari, hipertensi menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbesar, Sejak tahun 2010 penderita hipertensi yang berobat berjumlah 3.574 penderita. Dan Pada tahun 2011 mengalami peningkatan, penderita hipertensi yang berobat berjumlah 3.827 penderitan, tetapi pada awal 2012 penderita hipertensi yang berkunjung mengalami peningkatan            ( Puskesmas Rawasari, 2012 ).
Berdasarkan pengamatan peneliti telah banyak upaya-upaya yang dilakukan oleh Puskesmas Rawasari, pada kenyataannya masih ditemukan masalah yang berkaitan dengan konsumsi makanan atau nutrisi yang tidak sesuai dengan program diet yang ditetapkan, yaitu program diet "rendah garam dan pembatasan lemak". Maka berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang adakah Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluaga dengan Diet Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Rawasari Tahun 2012.
B.   Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalahnya “Apakah Ada Hubungan tingkat pengetahuan keluarga dengan diet hipertensi pada lansia
C.   Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan Tingkat pengetahuan keluarga dengan diet hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rawasari tahun 2012.
2.    Tujuan Khusus
a.    Diketahuinya gambaran tingkat pengetahuan keluarga dengan diet hipertensi pada lansia di wilayah kerja puskesmas Rawasari 2012.
b.    Diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan keluarga dengan diet hipertensi pada lansia di wilayah kerja puskesmas Rawasari 2012.

D.   Manfaat penelitian
1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi
Sebagai bahan informasi dan masukan bagi pengambil kebijakan dalam rangka meningkatkan upaya-upaya pencegahan terhadap penderita hipertensi berdasarkan pertimbagan, perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan evaluasi.
      2. Bagi Puskesmas Rawasari
Di harapkan menambah informasi dan masukan bagi petugas kesehatan khususnya di puskesmas Rawasari  kota jambi  agar dapat meningkatkan upaya pemulihan bagi penderita hipertensi. 
      3.  Bagi institusi pendidikan
Untuk menambah referensi perpustakaan dan wawasan    mahasiswa telanai bhakti kesehatan jambi jurusan keperawatan tentang hubungan tingkat pengetahuan keluarga dengan diet hipertensi pada lansia.
       4. Bagi Penderita Hipertensi
Informasi bagi responden tentang kondisi saat ini dan sebagai upaya pencegahan terhadap komplikasi yang mungkin terjadi jika mengetahui bahwa peningkatan tekanan darah dipengaruhi oleh banyak faktor.
5.    Bagi Peneliti Lain
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan sebagai acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya.

E.   Ruang lingkup
Penelitian ini merupakan penelitian Analitik Kuantitatif dengan desain Cross Sectional untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluarga Dengan Diet Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Rawasari Tahun 2012. Pengolahan data dengan menggunakan program komputerisasi. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan tekhnik Accidental sampling (dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian). Penelitian ini akan dilakukan pada tahun 2012 yang bertempatan di wilayah kerja puskesmas Rawasari Kota Jambi.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   TINJAUAN TEORITIS
1.    Hipertensi
a.    Pengertian
Hipertetensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut ke suatu organ target seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung) dan hipertrofi ventrikel kanan /left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Dengan target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi menjadi penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi (Bustan, 2007).
Hipertensi adalah faktor penyebab timbulnya penyakit berat seperti serangan jantung, gagal ginjal, dan stroke. Apalagi di masa sekarang ini, pola makan masyarakat Indonesia yang sangat menyukai makanan berlemak dan yang berasa asin atau gurih, terutama makanan cepat saji yang memicu timbulnya kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi juga sering dituduh sebagai penyebab utama penyakit hipertensi di samping karena adanya faktor keturunan (Yekti Susilo, 2011).
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat. Hingga saat ini, penderitanya di dunia hampir mencapai 1 miliar orang. Umumnya mereka yang menderita penyakit ini tidak menyadari kondisi penyakitnya (Budi Sutomo, 2009).
WHO, (2009) menggolongkan hipertensi berdasarkan usia, penggolongannya adalah :
1)    Kelompok usia 20 - 29 tahun, tekanan darah >150/90 mm Hg,
2)    Kleompok usia 30 – 64 tahun, tekanan darah 160/95 mm Hgm,
3)    Kelompok usia > 65 tahun, tekanan darah > 170/95 mm Hg.
Data Joint National Committee on Prevention detection, Evaluation, and Treatment on High Blood Pressure 7 mengungkap, penderita hipertensi di seluruh dunia mendekati angka 1 miliar. Artinya, 1 dari 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi. Lebih dari separuh atau sekitar 600 juta penderita, tersebar di Negara berkembang, termasuk Negara Indonesia. Angka ini menunjukkan, hipertensi bukan hanya masalah Negara-negara maju.
Data WHO menyebutkan, dari setengah penderita hipertensi yang diketahui hanya seperempatnya (25%) yang mendapat pengobatan. Sementara hipertensi yang diobati dengan baik dengan hanya 12,5 persen. Padahal, hipertensi menyebabkan rusaknya organ-organ tubuh seperti ginjal, jantung, hati, mata kelumpuhan organ-organ gerak.
Hipertensi baru bias diketahui dari hasil pengukuran tekanan darah. Tekanan darah dinyatakandalam dua angka, yaitu sistolik dan diastolic. Angka sistolik (atas) menggambarkan tekanan dalam pembuluh darah arteri saat jantung berkontraksi dan memompa darah ke dalam aorta, sedangkan angka diastolic (bawah) menunjukkan tekanan dalam pembuluh darah saat jantung istirahat di antara dua denyutan dan terisi darah. Pencatatan hasil pengukuran tekanan darah angka sistolik di atas angka diastolic. Tekanan darah normal bila angka sistolik kurang dari 120 mmHg dan angka diastolic di bawah 80 mmHg (Budi Sutomo, 2009).
Hipertensi diklasifikasikan dalam beberapa kategori. World Health Organization (1991-1999) mengklasifikasikan hipertensi menjadi 3 kelompok, yakni hipertensi ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat. Karena ketiga kelompok tersebut memiliki risiko komplikasi sama besar, maka kategori WHO tidak lagi digunakan. panduan tentang hipertensi didasarkan pada criteria Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment 7 (JNC 7)

Table 1. Klasifikasi JNC 7 (2004)
Kategori
Tekanan Darah (mmHg)
Optimal
Normal
Borderline
Hipertensi
Stadium 1
Stadium 2
Stadium 3
<120/80
120-129/80-84
130-139/85-89
≥140/90
140-159/90-99
160-179/100-109
≥180/110
Sumber : Joint National Committee on Prevention detection, Evaluation, and Treatment on High Blood Pressure 7.

JNC mengeluarkan klasifikasi terbaru JNC 7 di tahun 2004 yang saat ini digunakan di Amerika serikat. Kategorinya lebih dipersempit dan dimasukkan satu kategori baru, yaitu prehipertensi. Tekanan darah dengan sistolik 120-139 mmHg dan diastolic 80-89 mmHg digolongkan prehipertensi. Seseorang yang masuk dalam kategori ini belum termasuk hipertensi. Klasifikasi ini menunjukkan seseorang berisiko tinggi menjadi penderita hipertensi. Prehipertensi merupakan peringatan agar calon penderita hipertensi segera mengubah gaya hidup agar tekanan darah menurun sehingga perkembangan penyakit bisa di cegah atau diperlambat


b.    Penyebab Hipertensi
Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam. Peda kebanyakan pasien etiologi patofisiologinya tidak diketahui (essensial aatu hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat dikontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi sekunder; endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara potensial (Depkes RI,2006).
Menurut Prof. Dr. Kebo (2008), 95% penderita hipertensi tergolong yang primer.
1)    Yang tidak jelas penyebabnya, penyebab hipertensi primer (esensial) sampai saat ini masih spekulatif, termasuk di dalamnya adalah :
1)    Aktifitas saraf simpatis yang berlebihan,
2)    Obesitas (kegemukan),
3)    Makan tinggi garam (termasuk mono-sodium glumate),
4)    Makanan yang diawetkan,
5)    Stress,
6)    Rokok, kopi, dan minuman berakohol,
7)    Makanan yang bersifat panas, seperti daging kambing dan durian,
8)    Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh, kolesterol tinggi,
9)    Kehidupan sedentary (kurang bergerak),
10) Faktor genetis (riwayat keluarga) dan usia.
Faktor genetik dan usia tidak bias diubah, sedangkan faktor lainnya dapat diubah. Penyakit ini menyebabkan jantung koroner dan stroke.
2)    Yang diketahui penyebabnya, atau yang disebut hipertensi primer. Penyebeb hipertensi sekunder, antara lain penyakit ginjal, tumor kelenjar suprarenalis, kelainan hormonal, atau pembuluh darah. Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial, penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan kependerita hipertensi esensial.
Menurut Dr. Yekti Susilo dan Ari Wulandari (2011) yang menyebakan terjadinya hipertensi secara umum. Salah satu saja mengenai tubuh kita maka dengan mudah kita akan menderita hipertensi, yaitu :
a)    Toksin
Toksin adalah zat-zat sisa pembuangan yang seharusnya dibuang karena bersifat racun. Dalam keadaan biasa, hati kita akan mengeluarkan sisa-sisa pembuangan melalui saluran usus dan kulit. Sementara ginjal mengeluarkan sisa-sisa pembuangan melalui saluran kencing atau kantong kencing. Penyakit yang paling biasa diderita akibat penumpukan toksin dalam tubuh adalh filek, flu, dan bronchitis. Penumpukan toksin pada bagian yang berlainan pada tubuh akan menyebabkan penyakit-penyakit yang berbeda-beda, termasuk hipertensi. Hal tesebut menyebabkan pembesaran jantung dan selanjutnya mengakibatkan penyakit jantung. Sementara itu, tekanan yang dilakukan terhadap saluran darah akan mengakibatkan tekanan darah tinggi.

b)    Faktor genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga tersebut mempunyai risiko menderita hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai risiko dua kalilebih besar untuk menderita hipertensi dari pada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Ada baiknya kita mulai sekarang kita memeriksa riwayat kesehatan keluarga sehingga kita dapat melakukan antisipasi dan pencegahan.
c)    Umur
Kepekaan terhadap hipertensi akan meningkat seiring dengan betambahnya umur seseorang. Individu yang berumur di atas 60 athu, 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya.
d)    Jenis kelamin
Setiap jenis kelamin memiliki struktur organ dan hormon yang berbeda. Demikian juga pada perempuan dan laki-laki. Berkaitan dengan hipertensi, laki-laki mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal. Laki-laki juga mempunyai risiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskiluer. Sedangkan pada perempuan, biasanya lebih rentan terhadap hipertensi ketika mereka sudah berumur di atas 50 tahun. Sangatlah penting bagi kita untuk menjaga kesehatan sejak dini. Terutama mereka yang memiliki sejarah keluarga terkena penyakit.
e)    Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang kulit hitam dari pada yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya, tetapi pada orang kuli hitam ditemukan kadar rennin yang lbih rendah dan sensitivitas terhadap vasopressin yang lebih besar.
b)    Stress
Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Stres merupakan respon tubuh yang sifatnya non- spesifik terhadap setiap tuntunan beban atasnya. Terdapat beberapa jenis penyakit yang berhubungan dengan stres yang dialami seseorang, diantaranya hipertensi atau peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Stres yang dialami seseorang akan membangkitkan saraf simpatetis yang akan memicu kerja jantung dan menyebabkan peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, bagi mereka yang sudah memiliki riwayat sejarah kesehatan penderita hipertensi, disarankan untuk berlatih mengendalikan stres dalam hidupnya.
c)    Kegemukan (obesitas)
Kegemukan (obesitas) juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berat, salah satunya hipertensi. Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun normotensi. Yang sangat mempengaruhi tekanan darah adalah kegemukkan pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut atau kegemukan terpusat (obesitas sentral).
d)    Nutrisi
Sodium adalah penyebab penting terjadinya hipertensi primer. Asupan garam tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan menigkatkan tekanan darah. Asupan garam tinggi dapat menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi yaitu lebih dari 14 gram per hari atau jika dikonversi ke dalam takaran sendok makan adalah lebih dari 2 sendok makan. Bukan berarti kita makan garam 2 sendok makan setiap hari tetapi garam tersebut terdapat dalm makanan-makanan asin atau gurih yang kita makan setiap hari.
e)    Merokok
Merokok merupakan faktor risiko yang potensial untuk ditiadakan dalm upaya melawan arus peningkatan hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia.
f)     Narkoba
Mengkonsumsi narkoba jelas tidak sehat. Karena narkoba tidak ada sedikitpun kebaikannya. Penyakit kecanduan narkoba kelihatannya sepele tetapi sangat mematikan. Efek buruk yang ditimbulkannya sangatlah besar. Itulah sebabnya mendeteksi keberadaan hipertensi sejak dini sangat diperlukan. Tentu saja juga harus diimbangi dengan pola hidup sehat.
g)    Alkohol
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga akan memicu tekanan darah seseorang. Menghentikan kebiasaan mengkonsumsi alkohol sangatlah baik, tidak hanya bagi hipertensi kita tetapi juga untuk kesehatan kita secara keseluruhan.
h)    Kafein
Kandungan kafein selain tidak baik pada tekanan darah dalam jangka panjang, pada orang-orang tertentu juga menimbulkan juga menimbulkan efek yang tidak seperti tidak bisa tidur, jantung berdebar-debar, sesak nafas, dan lain-lain.
i)     Kurang Olahraga
Dengana adanya kesibukan yang luar biasa, manusia pun merasa tidak punya waktu lagi untuk berolahraga. Akibatnya, kita menjadi kurang gerak dan kurang olahraga. Kondisi inilah yang memicu kolesterol tinggi dan juga adanya tekanan darah yang terus menguat sehingga memunculkan hipertensi.
j)      Kolesterol Tinggi
Kandungan lemak yang berlebihan dalam darah dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat.
c.    Patofisiologi
Dimulai dengan atheroklerosis, gangguan struktur anatomi pembuluh darah peripher yang berlanjut dengan kekakuan pembuluh darah. Kekakuan pembuluh darah disertai dengan penyempitan dan kemungkinan pembesaran plaque yang menghambat gangguan peredaran darah peripher. Kekakuan dan kelambanan aliran darah menyebabkan beban jantung bertambah berat yang akhirnya dikompensasi dengan peningkatan upaya pemompaan jantung yang memberikan gambaran peningkatan tekanan darah dalm sistem sirkulasi (Bustan, 2007).
d.    Komplikasi Hipertensi
Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan mempecepat atherosclerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk rusaknya organ tubuh seperti jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh darah besar. Hipertensi adalah faktor risiko utama untuk penyakit serebrovaskuler (stroke, transient ischemic attack), penyakit arteri koroner (infark miokard, angina), gagal ginjal, dementia, dan atrial fibrilasi. Bila penderita hipertensi memiliki faktor-faktor risiko kardiovaskularlain, maka akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat gangguan kardiovaskulernya tersebut. Menurut studi Framingham, pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan risiko yang bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer, dan gagal jantung (Depkes RI, 2006).

Tabel 2. Faktor-faktor Risiko kardiovaskular menurut Departemen Kesehatan RI, 2006  adalah :



faktor risiko mayor
            hipertensi
            merokok
            obesitas (BMI = 30)
            immobilitas
            dislipidemia
            diabetes mellitus
mikroalbuminura atau perkiraan GFR<60 ml/min umur (>55 tahun untuk laki-laki, >65 tahun untuk perempuan)
Riwayat keluarga untuk penyakit kardiovaskular prematur (laki-laki <55 tahun atau perempuan <65 tahun)

Kerusakan organ target
Jantung :           Left ventricular hypertrophy
                        Angina atau sudah pernah infark miokard
                        Sudah pernah revaskularisasi koroner
                        Gagal jantung
Otak :               stroke atau TIA
Penyakit ginjal kronis
Penyakit arteri perifer
Retinopathy

BMI = Body Mass Index; GFR = Glomerular Filtration Rate; TIA = Transient Ischemic Attack.
           
 
 
                       










Sumber : faktor-faktor risiko kardiovaskular menurut Depkes RI, 2006.

2.    Diet Hipertensi
a.    pengertian
Diet hipertensi merupakan pengurangan konsumsi natrium, tinggi serat, kolesterol,  agar penurunan tekanan darah lebih optimal. Yang dimaksud diet ini adalah memperbanyak konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan produk susu rendah lemak untuk menurunkan tekanan darah. Makanan yang dikonsumsi pun lebih kaya serat dan mineral yang bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah (kalium, magnesium, dan kalsium). Kalium bekerja mengatur keseimbangan jumlah natrium dalm sel. Kalsium dan magnesium bermanfaat secara tidak langsung untuk membantu mengendalikan hipertensi (Budi Sutomo, 2009).
Menurut Ir. Padmiarso M. Wijoyo untuk mencegah hipertensi yang perlu dilakukan adalah melalui pengontrolan gaya hidup, antara lain :
1.    Mengatur pola makan
Perbanyaklah minum air putih. Cara makan yang baik adalah sedikit-sedikit tapi sering, bukan makanan banyak tetapi jarang. Kandungan zat dalam menu makanan juga harus diperhatikan, meliputi :
a)    Diet rendah garam
Asupan garam yang diperlukan pada orang sehat sekitar 3-5 gram (setara 1 sendok the) per hari. Jika tubuh banyak berkeringat, sering buang air kecil serta diare, memerlukan asupan garam yang lebih. Kelbihan garam dapat menyebabkan hipertensi, risiko dehidrasi dank ram, darah mengental (penyebab penyakit jantung dan stroke), mengikat cairan yang banyak serta dapat mengendap di pergelangan kaki dan daerah tengah tubuh.
Diet rendah garam diperlukan terutama pada orang yang punya potensi tinggi hipertensi, dapat dilakukan dengan cara:
1)    Gunakan garam sebagai bumbu masakan secukupnya saja, perbanyak rempah dan kurangi garam.
2)    Jangan menambah garam pada hidangan yang siap santap. Jauhakn garam dari meja makan.
3)    Kurangai minuman bersoda, minuman kaleng dan botol. Minuman bersoda dan pengawet banyak mengandung sodium (Natrium).
4)    Kurangi makan daging, ikan, kerang, kepiting, dan susu, camilan/snack yang asin dan gurih.
5)    Hindari makan makanan ikan asin, telur asin, otak, vetsin (monosodium glutamate/MSG), soda kue, jeroan, sarden, udang, dan cumi-cumi.
6)    Konsumsi makanan yang dianjurkan, seperti sayuran segar, buah segar, tempe, tahu, kacang-kacangan, ayam, dan telur.
b)    Diet rendah kolesterol
Makanan yang dimakan sebaiknya mengadung lemak jahat seperti kolesterol (menerunkan HDL).  Diet rendah kolesterol dapat dilakukan dengan cara:
1)    Kurangi makan makanan yang mengandung gula murni, daging, ayam, kuning telur, dan sarden.
2)    Hindari makan makanan seafood, otak, jeroan, lemak hewani, mentega, susu full cream.
3)    Makanan yang dianjurkan meliputi sayuran, buah, minyak nabati (kecuali minyak kelapa), putih telur, iakn, kacang - vkacangan dan minyak zaitun. Jika sudah mencapai berat badan ideal, jangan melakukan diet terlalu keras. Imbangi dengan pola makan sehat, mengandung sumber energy, pembangun tubuh, pelindung serta pengatur tubuh. Sumber energi ideal adalah 12-15% lemak dan 50-60% karbohidrat.

3.    Konsep Lansia
1.    Pengertian
Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial (UU No23 Tahun 1992 tentang kesehata).Pengertian dan pengelolaan lansia menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun1998 tentang lansia sebagai berikut :
a)    Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas.
b)    Lansia usia potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
c)    Lansia tak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada bantuan orang lain.
2.    Batasan Lansia
a)    Pra Usia Lanjut (presenilis)
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b)    Usia lanjut
Seorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Usia lanjut adalah tahap perkembangan masa tua dalam perkembangan individu (usia 60 tahun keatas). Sedangkan lanjut usia adalah sudah berumur atau tua.

c)    Usia Lanjut Resiko Tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
d)    Usia Lanjut Potensial
Usia lanjur yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.
e)    Usia Lanjut Tidak Potensial
Usia lanjut yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
3.    Proses Menua
Aging process atau proses menua merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat dihindarkan, yang akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah suatu proses menghilangnya sacara perlahan-lahan kemampuan jarinagan untuk memperbaiki diri ayau mengganti dan mempertahankan struktur dan fungsi secra normal, kethanan terhadap injury termasuk adanya infeksi (constantinedes, 1994). Proses penuaan sudah mulai berlangsung sejak seorang mencapai dewasa,misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh 'mati' sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas, pada usia berapa kondisi kesehatan seseorang memulai menurun. Setiap orang memiliki fungsi fisiologis alat tubuh yang sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak fungsi tersebut maupun saat menurunnya. Umumnya fungsi pisiologis tubuh hal. Pencapai puncakna pada usia 20-30 tahun. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai bertambahnya usia (mubarak, 2009 : 146).

4.    Teori penuaan
a.    Teori Biologis
pada tahun 1993, Mary. Ann Christ et al. (lihat Hardywinoto dan Toni Setiabudi, 1999) menyatakan bahwa penuaan merupaaln proses berangsur-angsur yang mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan mengakibatkan perubahan yang berakhir dengan kematian, Penuaan juga menyangkut perubahan struktur sel, akibat interaksi sel dengan Iingkungannya, yang pada akhirnya menimbulkan perubahan generatif. Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik berarti perubahan ynng timbul akibat penyebab di dalam sel sendiri, sedang teori ekstrinsik menjelasktrn bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan pengaruh lingkungan, Penuaan menurut teori biologis di antaranya adalah sebagai berikut.(mubarak, 2009)
1)    Teori Genetik Clock
Meurut teori ini menua telah terpogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Tiap spesies di dalam inti selnya mempunyai suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi tersebut. Jadi, menurut konsep ini bila jam kita ini berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan. lingkungan atau penyakit. Secara teoretis dapat dimungkinkan memutar jam ini  lagi meski hanya beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa Peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obatan, atau dengan tindakan tertentu.

2)    Teori Mutiisi Somatik (Error Catastrophe Theory)
Menurut teori ini penuaan disebabkan oleh kesalahan yang beruntun dalarn jangka waktu lama melalui trankripsi dan translasi. Kesalahan  tersebut menyebabkan terbentuknya enzim yang salah dan berakibat pada metabolisme yang salah, sehingga mengurangi fungsional sel. Meskipun dalam batas-batas tertentu, kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan memperbaiki diri terbatas pada transkripsi, yang tentu akan menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim, sehingga menimbulkan metabolit berbahaya. Sernakin banyak kesiilahan pada translasi, maka kesalahan yang terjadi juga akan semakin banyak.
3)    Teori Autoimun ( Auto Immune theory)
Menurut teori ini proses metaboiisme tubuh suatu saat akan memproduksi zat khusus. Ada jaringan tubuh terterrtu yang tidak  tahan terhadap suatu zat, sehingga jaringan tubuh rnerjadi lemah dan sakit Sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia dewasa akan berinvolusi kemudian semenjak itu terjadilah kelainan autoimun (Godteris & Brocklehurst, 1989).
4)    Teori  Radikal Bebas
Menurut teori ini penuaan disebabkan adanya radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas. Tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) yang masuk ke dalam tubuh akan mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik, seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini akan menyebabkan sel tidak dapat beregenerasi. Radikal bebas yang ada di dalam tubuh bersifat merusak juga dapat dinetralkan dalarn tubuh oleh enzim atau senyawa non-enzim, misalnya vitamin C betakorotirn dan vitamin E.
5)    Pemakaian dan Rusak
Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh rusak.
6)    Teori virus yang Perlahan-lahan Menyerang sistem kekebalan Tubuh (immunology slow Virus Theory)
Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat dari sistem imun yang kurang efektif seiring dengan bertambahnya usia. Masuknya virus ke dalam tubuh dapat  menyebababkan kerusakan pada organ tubuh.
7)    Teori Stres
Menurut teori ini penuaan terjadi akibat hilangnya se1-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertirhankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha, dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
8)    Teori Rantai Silang
Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat adanya rearksi kimia sel-sel yang tua atau yang telah usang menghasilkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan  ini menyebabkan  jarigan menjadi kurangnya elastis, kaku, dan hilangnya fungsi.
9)    Teori Program
Menurut teori ini penuaan terjadi karena kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati

b.    Teori Kejiwaan Sosial
Berikut ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung teori kejiwaan sosial.
1)    Aktivitas atau kegiatan (Activity Theory)
a)    Teori aktivitas, menurut Hiivighusrst dan Albrecht (1953) barpendapat bahwa sangat penting bagi lansia untuk tetap beraktivitas dan mencapai kepuasan hidup.
b)    ketentuan akan meningkatnya penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa lansia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut dalam banyak kegiatan sosial.
c)    Ukuran optimal (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lansia.
d)    Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke usia lanjut.
2)    Teori kepribadian Berlanjut  ( continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada usia lanjut. Teori ini merupakan gabungan dari teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang berusia lanjut sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang dimliki.
3)    Teori Pembebasan (Disengagem ent Theory)
Salah satu teori sosial yang berkenaan dengan proses penuaan adalah "teori pembebasan atau disengagement theory". Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lansia menurun, baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga seringg terjadi kehilangan ganda (tripple loss). Definisi kehilangan ganda adalah sebagai berikut :
a)    kehilalangan peran (loss of role).
b)    Hambatan kontak sosial (restraction of contacts and relationships).
c)    Berkurang nl,a komitmen (social mores and values).
c.    Teori Psikologi
Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada. Teori tugas perkembangan yang diungkapkan oleh Hanghurst (1972) adalah bahwa setiap individu harus meperhatikan tugas perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan meniberikan Perasaan bahagia dan sukses. Tugas perkembangan yang spesifik ini bergantug pada maturasi fisik, pengharapan kultural, masyarakat, nilai aspirasi individu. Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi: penerimaan adanya penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, penerimaan masa pension dan penurunan pendapatan, respons penerimaan adanya kematian pasangan atau orang-orang yang berarti bagi dirinya, mempertahankan hubungan dengan kelompok yang sesuai, adopsi dan adaptasi dengan peran sosial secara fleksibel, serta mempertahankan kehidupan secara memuaskan. (chayatin, 2009 : 148)
d.    Teori Kesalahan Genetik
Menutut dr. Afgel bahwa proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetik DNA di mana sel genetik memperbanyak diri (ada yang memperbanyak diri sebelum pembelahan sel), sehingga mengakibiitkan kesalahan-kesalahan yang berakibat pula pada terhambatnya pembentukan sel berikutnya, sehingga mengakibatkan kematian sel. Pada saat sel mengalami kematian orang akan tampak menjadi tua.  (chayatin, 2009 : 148)
e.    Teori Rusaknya  Sistem lmun Tubuh
Mutasi yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan sistem imun untuk mengenali dirinya berkurang (self recognitlon), sehingga mengakibatkan kelainan pada sel karena dianggap sel asing yang membuat hancurnya kekebalan tubuh. Inilah yang disebut dengan peristiwa autoimun.
f.      Teori Penuaan Akibat Metabolisme
Teori penuaan akibat metabolisme menjelaskan bagaimana proses menua terjadi.
1)    Datang dengan sendirinya, merupakan "karunia' yang tidak bisa dihindari/ditolak.
2)    Usaha dalam memperlambat menjadi awet tua.
3)    WHO (1982) usia lanjut yang berguna, bahagia, dan sejahtera (Mubarak, 2009 :149 ).
5.    Perubahan yang terjadi pada lansia
a.    Perubahan Kondisi Fisik
Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi: perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh, di antaranya sistem pernapasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskular, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, urogenital, endokrin, dan integumen.
Masalah fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia di antaranya lansia mudah jatuh, mudah lelah, kekacauan mental akut, nyeri pada dada, berdebar-debar, sesak napas pada saat melakukan aktivitas atau kerja fisik, pembengkakan pada kaki bawah, nyeri pinggang atau punggung, nyeri sendi pinggul, sulit tidur, sering pusing, berat badan mednuruun, gangguan  pada fungsi penglihatan, pendengaran, dan sulit menahan kencing.
b.    Perubahan Kondisi Mental
Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. perubahan-  perubahan mental ini erat sekali kaitannya dengan perubahan fisik, keadaan kesehatan tingkat pendidikan atau pengetahuan, dan situasi lingkungan. Intelegensi diduga secara umum makin mundur terutama faktor penolakan abstrak, mului lupa terhadap kejadian baru, masih terekam  baik kejadian masalalu  dari segi mental dan emosional sering muncur perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan cemas. Adanya kekacauan mental akut, merasa terancam akan timbulnya suatu penyakit atau takut ditelantarkan karena tidak berguna lagi. Munculnya Perasaan kurang mampu untuk mandiri serta cenderung bersifat introvert.
c.    Perubahan  Psikososial
Masalah perubahan psikososial serta reaksi individu terhadap perubahan ini sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan. Orang yang telah menjalani kehidupannya dengan bekerja, mendadak dihadapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun.
Perubahan psikososial yang lain adalah merasakan atau sirdar akan kematian, perubahan cara hidup mernasuki rumah  perawatan, penghasilan menurun, biaya hidup meningkat, tambahan biaya pengobatan penyakit kronis, ketidak mampuan, kesepian akibat pengasingan diri dari lingkungan sosial, kehilangan hubungan dengan teman dan keluarga, hilangnya kekuatan dan ketegangan fisik, perubahan konsep diri, serta kematian pasangan hidup.
Perubahan yang menjadikan dalam kehidupan akan membuat mereka merasa kurang melakukan kegiatan yang berguna, perubahan yang mereka alami di antaranya adalah sebagai berikut :
1)      Minat. Pada umumnya pada masa usia lanjut minat seseorang akan berubah dalam kuantitas maupun kualitasnya. Lazimnya  minat dalam aktivitas fisik cenderung menurun dengan bertambahnya usia. Perubahan minat pada lansia jelas berhubungan dengan menurunnya kemampuan fisik, tidak dapat diragukan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor sosia1.
2)      Isolasi dan kesepian. Banyak  faktor bergabung, sehingga nrembuat orang berusia lanjut terisolasi dari yang lain. Secara fisik, mereka kurang mampu mengikuti aktivitas yang melibatkan  usaha. Makin menurunnya kuaalitas organ indra yang mengakibatkan ketulian, penglihatan yang makin kabur, dan  sebagainya. Selanjutnya membuat lansia merasa terputus dari hubungan dengan orang-orang 1ain. Faktor lain yang membuat isolasi semakin menjadi lebih parah adalah perubahan sosial, terutama meregangnya ikatan kekeluargaan. Bila lansia tinggal bersama sanak saudaranya, mereka mungkin bersikap toleran terhadapnya, tetapi jaraang rnenghormatinya. Lebih sering terjadi lansia menjadi terisolasi dalam arti kata yang sebenarnya, karena ia hidup sendiri. Semakin 1anjut usianya, kemampuan mengendalikan perasaan dengan akal akan melemah, dan orang cenderung kurang dapat mengekang dari dalam perilakunya. Frustrasi kecil pada tahap usia yang lebih muda tidak rnenimbulkan masalah, pada tahap ini membangkitkan luapan emosi dan mereka mungkin bereaksi dengan ledakan amarah atau sangat tersinggung terhadap peristiwa-peristiwa yang menurut kita sepele.
3)      Peranan iman. Menurut  proses fisik dan mental, pada usia lanjut memungkinkan orang yang suhah tuli tidak begitu membenci dan merasa khawatir dalam memandang akhir kehidupan dibanding orang yang lebih muda. Namun demikian, hampir tidak dapat disangkal bahwa iman yang teguh adalah senjata yang paling ampuh untuk melawan rasa takut terhadap kematian. Usia lanjut memang merupakan masa di mana kesadaran religius dibangkitkan dan diperkuat. Keyakinan  iman yang menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir, tetapi merupakan permulaan yang baru memungkinkan individu menyongsong akhir kehidupan dengan tenang dan tentram.
d.    Perubahan Kognitif.
Perubahan pada fungsi kognitif di antaranya adalah kemunduran pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang memerlukan memori jangka pendek, kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran, dan kemampuan verbal dalarn bidang vocabulary (kosa kata) akan menetap bila tidak ada penyakit yang meryertai.
e.    Perubahan spiritual.
Perubahan yang terjadi pada aspek spiritual lansia adalah sebagai berikut.
1)    Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970).
2)    Usia lanjut makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam cara berpikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970).
3)    Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Fowler adalah universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan bersikap adil.
f.      Faktor yang Mempengaruhi Penuaan dan Penyakit Yang Sering Dijumpai
a.    Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan dan penyakit yang sering terjadi pada lansia.
1)    Hereditas atau keturunan genetik
2)    Nutris atau makan
3)    Status perkawinan
4)    Pengalaman hidup
5)    Lingkungan dan,
6)    Stres
b.    Penyakit yang sering dijumpai pada usia lanjut
Menurut the tational old people’s welfare council, penyakit lansia, yaitu :
1)    Depresi mental
2)    Gangguan pendengaran
3)    Brinkhitis kronis
4)    Gangguan pada tungkai atau sikap berjalan
5)    Gangguan pada koksa atau sendi panggul
6)    Anemia
7)    Dimensia
4.    Konsep Keluarga
a.    Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak ibu, adik, kakak dan nenek (Raisner, 1980).
Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan kumpulan dari beberapa komponen yang saling berinteraksi satu dengan lainnya (Logan’s, 1979).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya, 1978).
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1988).
b.    Tipe Keluarga
                  Ada tipe keluarga menurut jhonson. L dan Lenny. R, 2010 yaitu:
1)    Keluarga inti, yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak.
2)    Keluarga conjugal, yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, dimana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu dua pihak orang tua.
3)    Selain itu terdapat juga keluarga luas yang tertarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas ini meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
c.    Tugas keluarga
1)    Tugas-tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang untuk dapat mencapai tujuan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, keluarga mempunyai tugas dalam pemeliharaan kesehatan para anggotanya dan saling memelihara (Freeman, 1981), yaitu :
a)    Mengenal masalah kesehatan tiap anggotanya untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan.
b)    Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga, sejauh mana kemampuan keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga.
c)    Memberikan perawatan anggota keluarga yang sakit, cacat atau usia yang terlalu muda, untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
d)    Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
e)    Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga kesehatan.
2)    Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok menurut, jhonson. R dan Lenny. L sebagai berikut :
a)    Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b)    Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c)    Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
d)    Sosialisasi antar anggota keluarga.
e)    Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f)     Pengaturan jumlah anggota keluarga.
g)    Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
h)    Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.
3)    Fungsi keluarga
Dalam kehidupan sehari-hari fungsi keluarga dapat kita lihat dan sekaligus sudah dapat diterapkan oleh masyarakat atau kelompok keluarga. Adapun fungsi yang dijalankan keluarga adalaha sebagai berikut :
b)    Fungsi pendidikan, dilihat dari bagaimana keluarga memndidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
c)    Fungsi sosialisasi, anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
d)    Fungsi perasaan, dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesame anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
e)    Fungsi perlindungan, dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
f)     Fungsi agama, dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
g)    Fungsi ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
h)    Fungsi rekreatif, dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
i)     Fungsi biologis, dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman diantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga (Lenny. R, 2010 :9)

5.    Pengetahuan
            Pengetahuan adalah kesan di dalam fikiran-fikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya yang berbeda sekali dengan kepercayaan, takhayul dan penerangan yang keliru (Soekanto, 2000 ).
            Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu yaitu melalui panca indera manusia, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003 ).
            Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk mengubah perilaku seseorang yang disengaja. Menurut teori Sigmund Freud, salah satu aspek perkembangan manusia adalah perkembangan kognitif. Hal ini merujuk pada proses internal dari produk pikiran manusia yang mengarah pada konsep mengetahui termasuk di dalamnya semua aktifitas mental seperti mengingat, menghubungkan, mengklasifikasi, memberi simbol, mengimajinasi, pemecahan masalah, penalaran persepsi, berkreasi, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang baru (Effendi, 1998).
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat menurut Bloom cit Notoatmodjo (2003), yaitu:
a.    Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan dan sebagainya.
b.    Paham diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi harus harus dapat menjelaskannya.
c.    Aplikasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi nyata.
d.    Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih terkait satu sama lain. Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
e.    Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi.
Pengetahuan merupakan dasar konseptual dan rasional terhadap metode pendekatan yang dipilih untuk mencapai tujuan keperawatan yang spesifik dan tepat (Notoatmodjo, 2003)

6.    Kerangka Teori
Menurut Dr. Yekti Susilo dan Ari Wulandari (2011) yang menyebakan terjadinya hipertensi secara umum. Salah satu saja mengenai tubuh kita maka dengan mudah kita akan menderita hipertensi, dapat digambarkan seperti bagan dibawah ini :
Bagan 2.1
Text Box: Faktor Intern
v Pengetahuan keluarga
v Diet hipertensi pada lansia
Kerangka Teoritis


 















            Keterangan :
v  = diteliti
Ø  = tidak diteliti
7.    Kerangka Konsep
Bagan 2.2
Kerangka Teoritis
Variabel Independent                                      variabel dependent


 




8.    Hipotesis
Ada hubungan tingkat pengetahuan keluarga dengan diet hipertensi pada lansia di wilayah Kerja Puskesmas Rawasari Jambi.



















 
BAB III
METODE PENELITIAN
A.   Jenis dan Rancangan penelitan
Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan ”cross sectional” dimana data yang menyangkut variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoadmojo,2005)
B.   Subjek Penelitian
1.    Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Rawasari Jambi Tahun 2012.
2.    Populasi
Populasinya adalah keseluruhan keluarga yang memiliki lansia yang ada di wilayah kerja Puskesmas Rawasari Jambi Tahun 2012.
3.    Sampel
Sampel minimal dalam penelitian ini diambil sebanyak 30 orang penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rawasari Jambi Tahun 2012 sebagai berikut :
a)    Jenis kelamin laki-laki / perempuan
b)    Umur  ±30 tahun
c)    Jenis hipertensi Primer (Tekanan sistolik  140 mmHg, tekanan diastolik  90 mmHg)
d)    Pendidikan minimal SD atau sederajat.
e)    Bersedia menjadi responden.
4.    Cara Pengambilan Sampel
Pengumpulan data dilakukan dengan membagi kuesioner kepada responden penelitian. Kuesioner disebar oleh peneliti sendiri dengan dibantu oleh staf puskesmas di wilayah kerja Puskesmas Rawasari  kepada 30 keluarga sesuai data base yang dimiliki oleh Puskesmas Rawasari Jambi, respondennya keluarga yang memiliki lansia terdiagnosa menderita hipertensi atau yang memenuhi kriteria sampel yang telah ditentukan. Data yang diperoleh diperiksa langsung setelah pengumpulan data dilakukan, sehingga diharapkan tidak ada yang tidak terisi.
C.   Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan keluarga dengan diet hipertensi pada lansia, yang menjadi Variabel Independent adalah variabel bebas atau variabel yang bisa mempengaruhi, sedangkan variabel dependent adalah variabel terikat atau yang bisa terpengaruh. Variabel Independent yaitu tingkat pengetahuan keluarga, sedangkan pada Variabel Dependent yaitu diet hipertensi pada lansia.
D.   Definsi Operasional
1)    Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tingkat pengetahuan keluarga adalah daya pengenalan diet hipertensi pada lansia. Meliputi tujuan dari diet, kebutuhan protein, karbohidrat, buah-buahan, sayuran serta bahan makanan penukar yang dianjurkan dan makanan yang tidak diperbolehkan bagi penderita hipertensi. Skala pengukuran pada variabel bebas ini adalah skala ordinal dengan menggunakan kuesioner, dan kategori hasilnya pengetahuan penderita hipertensi tentang dietnya baik, cukup atau kurang.
2)    Diet hipertensi dalam pengertian disini yaitu tindakan menjalani diet hipertensi dalam hal pembatasan konsumsi garam, makanan berlemak, minum berakohol, serta peningkatan konsumsi buah-buahan dan sayuran. Contoh : pengurangan konsumsi makanan yang berlemak atau makanan pengawet. Skala pengukurannya adalah skala ordinal, dan kategori hasilnya adalah perilaku baik, cukup, dan kurang.
Bagan 3.1
Definisi Operasional
Variabel penelitian
Independent
Defenisi operasional
Cara ukur
Alat  ukur
Skala ukur
Hasil ukur
Pengetahuan keluarga
Pengetahuan adalah kesan di dalam fikiran-fikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya yang berbeda sekali dengan kepercayaan, takhayul dan penerangan yang keliru
Wawancara
Kuesioner
Ordinal
1.     Gaya hidup sehat
0.     Gaya hidup tidak sehat


(notoatmodjo, 2005 )
Variabel penelitian
Dependent
Defenisi operasional
Cara ukur
Alat  ukur
Skala ukur
Hasil ukur
Diet Hipertensi
Diet hipertensi merupakan pengurangan konsumsi natrium, tinggi serat, kolesterol,  agar penurunan tekanan darah lebih optimal.
Wawancara
Kuesioner
Ordinal
2.     Pola makan sehat
0.     Pola makan tidak sehat


(Muhammadun, 2010)

E.   Instrumen Penelitian
Peneliti melakukan uji validitas untuk mengetahui apakah kuesioner yang telah disusun oleh peneliti mampu mengukur apa yang hendak diukur. Item pertanyaan yang kurang atau tidak valid jika nilai probabilitasnya kurang dari 0,005.
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana suatu hasil pengukuran dilakukan dua kali atau lebih. Uji reliabilitas adalah uji keterandalan kuesioner tersebut apabila dipakai untuk mengumpulkan data penelitian yang berulang kali. Nilai reliabilitas bergerak dari 0 sampai dengan 1 tidak ada batasan nilai untuk reliabilitas. Hanya saja, semakin mendekati angka 1, maka kuesioner tersebut semakin reliabel. Berdasarkan uji reliabilitas menggunakan bantuan komputer dengan analisa koefisien Alpha Cronbach. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dari responden adalah sebagai berikut :
1.    Tingkat pengetahuan keluarga
responden penelitian diberi kuesioner yang diisi responden dan pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang ketentuan-ketentuan diet hipertensi dengan jumlah 23 item pertanyaan.
Jenis pertanyaan bersifat tertutup.
Penilaian di kuesioner, jika menjawab benar nilai 1, jika menjawab salah diberi nilai 0.
Hasil data yang telah terkumpul dihitung dengan cara sebagai
berikut :
Untuk mengetahui nilai prosentase yang diperoleh itu baik, sedang atau kurang, maka nilai tersebut dimasukkan ke dalam standar kriteria obyektif sebagai berikut:
Pengetahuan Baik : skor 17-23
Pengetahuan Sedang : skor 10-16
Pengetahuan Kurang : skor <10
Diet hipertensi pada Lansia
Sebagai alat ukur perilaku penderita hipertensi di dalam menjalani diet hipertensi menggunakan kuesioner atau mewawancarai penderita hipertensi yang kurang bisa memahami kuesioner atau tidak bisa membaca. Jenis pertanyaan bersifat tertutup dengan jumlah 20 item pertanyaan.
Dengan pehitungan data           
Hasil nilai di atas dikategorikan untuk perilaku hipertensi dii dalam menjalani diet hipertensi dengan kategori :
-       Perilaku Baik : skor 45-60
-       Perilaku Cukup : skor 33-44
-       Perilaku Kurang : skor 1-32
(Arikunto, 2003).
F.    Pengumpulan Data
a.    Data Primer
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada klien dengan diagnosa hipertensi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur. Dan hasil wawancara langsung di catat dalam kuesioner.
b.    Data Sekunder
Pengumpulan data sebagai data penunjang atau pelengkap yang di ambil dari dinas kesehatan dan data kunjungan rawat jalan di poliklinik umum di Puskesmas Rawasari tahun 2012.
G.   Pengolahan Data
Setelah data yang di perlukan terkumpul, maka selanjutnya data tersebut  di olah dengan tahapan sebagai berikut:
a.    Editing
Data yang terkumpul diperiksa dan di susun urutannya serta di lihat apakah ada kesamaan dalam pengisian dan bagaimana kosistensi jawabannya
b.    Coding
Melakukan pengkodean sesuai dengan alternatif jawaban yang ada untuk memudahkan entri data, untuk variabel tekanan darah peneliti memberi kode1 hipertensi primer, ringan : 140-159 Mmhg, sedang 160-179 Mmhg, berat 180-209. Untuk variabel gaya hidup,1. :  kurang baik jika jawaban  < median  2 : baik jika jawaban > median. Dan untuk variabel pola makan, 1 :  kurang baik jika jawaban < median, 2 : baik jika jawaban > median
c.    Scoring
Menetapkan skor untuk setiap variabel atau pertanyaan
1.    Pengetahuan keluarga
1.    = Ya jika pasien menjawab ≥ 3
0     = Tidak jika pasien menjawab < 3
2.    Diet hipertensi pada lansia
1.    = Ya jika pasien menjawab ≥ 3
0   .= Tidak jika pasien menjawab < 3
d.    Entri data
Memasukan data data yang telah dilakukan pengkodean dengan menggunakan komputer pada program data.
e.    Cleaning
Setelah data masuk. Maka selanjutnya dilakukan pengecekan data yang masuk sudah benar atau salah dengan cara melibatkan variasi data dalam bentuk distribusi frekuensi melihat konsistensi data antara variabel dengan croos table (table silang)
H.   Analisa Data
Untuk mendapatkan korelasi kedua variabel yang ada pada peneliti, maka berdasarkan kriteria yang ada dan skala yang digunakan oleh peneliti adalah ordinal, maka dilakukan uji hubungan berdasarkan test Chi-square.
Test Chi-square dengan rumus :
X² =
Keterangan :
Dimana X² digunakan untuk menguji signifikasi perbedaan frekuensi yang diperoleh berdasarkan data (fo) dengan frekuensi yang diharapkan (fh). Apabila dari perhitungan ternyata bahwa harga X² sama atau lebih besar dari harga kritik X² tabel, sesuai dengan taraf signifikasi yang telah diterapkan, maka akan diperoleh kesimpulan bahwa ada perbedaan yang meyakinkan antara fo dengan fh. Akan tetapi, apabila dari perhitungan ternyata bahwa nilai X² lebih kecil dari harga kritik X² tabel, menurut taraf signifikasi yang telah ditentukan maka kesimpulannya tidak ada perbedaan yang meyakinkan antara fo dengan fh (Arikunto, 2003).









4 komentar: