Selasa, 19 Juni 2012

HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP DIET HIPERTENSI PADA LANSIA DI RT 12 KELURAHAN RAWASARI JAMBI TAHUN 2012


ACC
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Pola gaya hidup seseorang, mempunyai peranan  yang sangat penting dalam terjadinya penyakit hipertensi. Faktor ketidakseimbangan makanan, baik kualitas maupun kuantitasnya akibat gaya hidup seseorang merupakan faktor terjadinya resiko penyakit degeneratif termasuk hipertensi. Pola konsumsi yang salah seperti banyak makan dengan pemilihan menu makan yang banyak mengandung lemak, kolesterol hal itu merupakan kebiasaan yang buruk dilakukan di rumah, restoran, pertemuan-pertemuan, maupun di pesta. Perilaku demikian dapat berakibat terjadinya penumpukan lemak dan kolesterol tubuh yang merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi (Nurochmah, 2001).
Pola makan rendah kolesterol dan lemak terbatas, dilakukan dengan meningkatkan asupan makanan nabati. Dengan demikian, asupan protein nabati meningkat sehingga menurunkan kadar kolesterol berlebihan. Kolesterol merupakan lemak seperti lilin dan berwarna kekuningan. Kadar kolesterol dalam darah dipengaruhi oleh asupan makanan dan sebagian besar hasil sintesa hati. Apabila jumlahnya normal, kolesterol sebenarnya bermanfaat memperlancar metabolisme tubuh seperti bahan pembentuk dinding sel, pembentukan hormon, pembungkus jaringan saraf, garam empedu, membuat vitamin D, dan juga membantu perkembangan otak pada anak-anak. Namun bila jumlah berlebihan, kolesterol justru membahayakan tubuh karena memicu timbulnya penyakit (Sutomo, 2009)
Agar kolesterol tidak memicu penyakit, kadarnya harus dikendalikan yaitu dengan mengatur pola makan. Perbanyak konsumsi makanan rendah kolesterol, serta batasi konsumsi lemak. Caranya yaitu dengan meningkatkan asupan makanan nabati dan mengganti  lemak berbahaya dengan lemak sehat. Pola tersebut dapat dilakukan dengan merencanakan setiap makanan yang akan anda makan selama tujuh hari berikutnya untuk diet hipertensi. Dengan membuat rencana program makan untuk menurunkan level kolesterol dan berat badan anda, anda juga dapat mengurangi resiko sakit jantung (Sutaryo, 2011).
Diet hipertensi ini dapat juga dilakukan dengan mengurangi asupan garam ke dalam tubuh dengan menggunakan ukuran sekitar satu sendok teh garam per hari dan memperbanyak konsumsi serat karena serat dapat memperlancar buang air besar dan mengurangi asupan natrium. Diet ini juga dilakukan dengan menghentikan kebiasaan buruk seperti minum minuman alkohol dan kopi yang dapat memacu detak jantung. Selain itu, memperbanyak asupan kalium karena kalium dapat membantu mengatasi kelebihan natrium pada penderita hipertensi terutama pada lanjut usia (Yekti, 2011).
Masa lanjut usia sering dikatakan identik dengan menurunnya kemampuan-kemampuan manusia, seperti kognitif, fungsi-fungsi inderawi, kehidupan yang tidak bahagia dan berarti, serta meningkatnya keluhan-keluhan dan penyakit-penyakit fisik maupun mental. Sebagian lansia pun mengalami keputusasaan dalam menjalani masa tuanya. Selain itu, faktor-faktor eksternal berupa perubahan-perubahan pada tingkat demografi, lingkungan dan sosial pun dapat menempatkan lansia pada posisi yang sulit. Keluarga, sebagai bagian dari suatu komunitas masyarakat, merupakan lingkaran spesial terdekat dan merupakan sumber utama dari dukungan sosial yang dimiliki lansia. Walaupun demikian, bagi anak yang harus menjaga dan mengurus orang tua yang sudah lansia tidaklah mudah, dan sering kali menimbulkan kecemasan dan tekanan. Ada dua sumber tekanan bagi keluarga yang harus mengurus lansia. Pertama, kesulitan menghadapi kenyataan menurunnya kemampuan orang tua, terutama bila melibatkan penurunan kemampuan kognitifnya. Bila keluarga tidak memahami penyebab-penyebab, ketidaktahuan ini akan menimbulkan kecemasan, ambivalensi, serta sikap antagonis terhadap orang tua yang sudah lansia. Kedua, bila situasi membuat lansia merasa terkungkung, atau sampai menganggu peran serta tanggung jawab anak (misalnya sebagai istri/suami, orang tua, karyawan), maka akan menimbulkan perasaan marah dan rasa bersalah, di samping kecemasan dan depresi, baik bagi lansia itu sendiri maupun anak atau keluarga yang mengurusnya (Tatiana, 2009)
Peran keluarga dalam mendukung kehidupan para lansia antara lain belajar memahami dan mencari tahu masalah fisik dan mental yang dihadapi atau dialami lansia melalui berbagai macam media informasi maupun dari para ahli. Bagaimana interaksi antara lansia dan anak-anaknya yang sudah dewasa sangat ditentukan oleh kualitas hubungan mereka di masa lalu. Untuk menghindari timbulnya atau mengatasi konflik berkaitan dengan pengasuhan orang tua lansia, semua anggota keluarga seyogyanya berupaya untuk menjalin komunikasi secara terbuka dan jujur (kalyana, 2010).
Di negara berkembang, salah satunya Negara Indonesia walaupun penyakit hipertensi merupakan penyakit yang dikenal luas dikalangan masyarakat umum, namun kurang dipahami, dan penderita cenderung mengabaikan faktor resiko yang ditimbulkan. Penyakit hipertensi seringkali tidak mempunyai tanda atau gejala atau sering juga disebut “silent killer” atau penyakit yang membunuh secara diam-diam atau terselubung. Masyarakat tidak menyadari kalau mereka menderita hipertensi sampai terjadi gangguan pada jantung (Susalit, 2001).         
Data Joint National Committee on Prevention detection, Evaluation, and Treatment on High Blood Pressure 7 (JNC 7) mengungkap, penderita hipertensi di seluruh dunia mendekati angka 1 miliar. Artinya, 1 dari 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi. Lebih dari separuh atau sekitar 600 juta penderita, tersebar di Negara berkembang, termasuk Negara Indonesia. Angka ini menunjukkan, hipertensi bukan hanya masalah Negara-negara maju. Banyaknya penderita hipertensi diperkirakan sebesar 15 juta bangsa Indonesia tetapi hanya 4% yang controlled hypertension. Yang dimaksud dengan hipertensi terekendali adalah mereka yang menderita hipertensi dan tahu bahwa mereka menderita hipertensi dan sedang berobat untuk itu (Bustan, 2007).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab meningkatnya resiko penyakit stroke, jantung dan ginjal. Pada akhir abad 20, penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi penyebab utama kematian di negara maju dan negara berkembang. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia sebesar 26,3%. Sedangkan data kematian di rumah sakit tahun 2005 sebesar 16,7%. Faktor resiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah adalah hipetensi, di samping hiperkolesterollemia dan diabetes melitus.Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menyatakan, prevalensi hipertensi di Indonesia pada daerah urban dan rural berkisar antara 17-21%. Data secara nasional yang ada belum lengkap. Sebagian besar penderita hipertensi di Indonesia tidak terdeteksi, sementara mereka yang terdeteksi umumnya tidak menyadari kondisi penyakitnya, ujarnya pada Peringatan Hari Hipertensi 2007 di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta (SKRT, 2001).
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan, di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case-finding maupun penatalaksanaan pengobatannya jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15% tetapi angka-angka ekstrim rendah seperti di Ungaran, Jawa Tengah 1,8%; Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya 0,6%; dan Talang Sumatera Barat 17,8%. Nyata di sini, dua angka yang dilaporkan oleh kelompok yang sama pada 2 daerah pedesaan di Sumatera Barat menunjukkan angka yang tinggi. Oleh sebab itu perlu diteliti lebih lanjut, demikian juga angka yang relatif sangat rendah. Survei penyakit jantung pada usia lanjut yang dilaksanakan Boedhi Darmojo, menemukan prevalensi hipertensi’ tanpa atau dengan tanda penyakit jantung hipertensi sebesar 33,3% (81 orang dari 243 orang tua 50 tahun ke atas).Wanita mempunyai prevalensi lebih tinggi dari pada pria (p¬0,05). Dari kasus-kasus tadi, ternyata 68,4% termasuk hipertensi ringan (diastolik 95¬104 mmHg), 28,1% hipertensi sedang (diastolik 105¬129 mmHG) dan hanya 3,5% dengan hipertensi berat (diastolik sama atau lebih besar dengan 130 mmHg) (DEPKES RI, 2008).
Pengumpulan data sebagai data penunjang atau pelengkap yang di ambil dari dinas kesehatan kota Jambi dan data kunjungan rawat jalan di poliklinik umum di Puskesmas Rawasari serta data dari kelurahan Rawasari.
Menurut data yang diperoleh dari dinas kesehatan kota jambi jumlah penderita hipertensi tahun 2010 sebanyak 12,24%,  sedangkan tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebanyak 12,39%  penderita  hipertensi, penderita hipertensi di puskesmas Rawasari dengan jumlah penderita 19,20%  jiwa per tahun ( Dinkes Kota Jambi, 2012 ).
Berdasarkan survei awal pada bulan Maret 2012 di puskesmas rawasari, hipertensi menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbesar, Sejak tahun 2010 penderita hipertensi yang berobat berjumlah 12,46% penderita. Dan Pada tahun 2011 mengalami peningkatan, penderita hipertensi yang berobat berjumlah 12,39% penderitan, tetapi pada awal 2012 penderita hipertensi yang berkunjung mengalami peningkatan 12,68% penderita ( Puskesmas Rawasari, 2012 ).
Dengan melihat data-data tentang penyakit hipertensi di atas kemudian mendapati begitu banyaknya orang-orang sekeliling kita terpuruk kesehatannya akibat hipertensi. Kebanyakkan hipertensi yang ditemui saat ini memang merupakan akibat gaya hidup tidak sehat, misalya gaya hidup tinggi lemak dan rendah serat, serta kurangnya olahraga. Juga karena banyaknya bahan tambahan makanan yang tidak sesuai dengan takaran mestinya. Maka berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang Hubungan Pengetahuan Keluaga terhadap Diet Hipertensi Pada Lansia Di RT 12 Kelurahan Rawasari Kota Jambi Tahun 2012.

B.   Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada hubungan pengetahuan keluarga terhadap diet hipertensi pada lansia
C.   Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan keluarga terhadap diet hipertensi pada lansia di RT 12 Kelurahan Rawasari tahun 2012.
2.    Tujuan Khusus
a.    Diketahuinya gambaran pengetahuan keluarga terhadap diet hipertensi pada lansia di RT 12 Kelurahan Rawasari tahun 2012.
b.    Diketahuinya hubungan pengetahuan keluarga terhadap diet hipertensi pada lansia di RT 12 Kelurahan Rawasari tahun 2012.



D.   Manfaat penelitian
1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi
Sebagai bahan informasi dan masukan bagi pengambil kebijakan dalam rangka meningkatkan upaya-upaya pencegahan terhadap penderita hipertensi berdasarkan pertimbagan, perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan evaluasi.
      2. Bagi Puskesmas Rawasari
Di harapkan menambah informasi dan masukan bagi petugas kesehatan khususnya di puskesmas Rawasari  kota jambi  agar dapat meningkatkan upaya pemulihan bagi penderita hipertensi. 
      3.  Bagi institusi pendidikan
Untuk menambah referensi perpustakaan dan wawasan mahasiswa telanai bhakti kesehatan jambi jurusan keperawatan tentang hubungan tingkat pengetahuan keluarga dengan diet hipertensi pada lansia.
       4. Bagi Peneliti Lain
Sebagai sumber untuk melakukan penelitian selanjutnya.

E.   Ruang lingkup
Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif dengan disain Cross Sectional untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Keluarga terhadap Diet Hipertensi Pada Lansia Di RT 12 Kelurahan Rawasari Kota Jambi Tahun 2012. Pengolahan data dengan menggunakan program komputerisasi SPSS versi 16.0. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan tekhnik total sampling (apabila responden kurang dari 100 lebih baik populasi di ambil semua). Penelitian ini akan dilakukan pada tahun 2012 yang berlokasi di Kelurahan Rawasari Rt 12. Populasinya adalah keseluruhan keluarga yang memiliki lansia yang ada di RT 12 Kelurahan Rawasari kota Jambi Tahun 2012 sebanyak 38 orang keluarga yang memiliki lansia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   TINJAUAN TEORITIS
1.    Konsep Hipertensi
a.    Pengertian Hipertensi
Hipertetensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut ke suatu organ target seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung) dan hipertrofi ventrikel kanan /left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Dengan target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi menjadi penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi (Bustan, 2007).
Hipertensi adalah faktor penyebab timbulnya penyakit berat seperti serangan jantung, gagal ginjal, dan stroke. Apalagi di masa sekarang ini, pola makan masyarakat Indonesia yang sangat menyukai makanan berlemak dan yang berasa asin atau gurih, terutama makanan cepat saji yang memicu timbulnya kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi juga sering dituduh sebagai penyebab utama penyakit hipertensi di samping karena adanya faktor keturunan (Yekti Susilo, 2011).
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat. Hingga saat ini, penderitanya di dunia hampir mencapai 1 miliar orang. Umumnya mereka yang menderita penyakit ini tidak menyadari kondisi penyakitnya (Budi Sutomo, 2009).
WHO, (2009) menggolongkan hipertensi berdasarkan usia, penggolongannya adalah :
1)    Kelompok usia 20 - 29 tahun, tekanan darah >150/90 mmHg,
2)    Kleompok usia 30 – 64 tahun, tekanan darah 160/95 mmHgm,
3)    Kelompok usia > 65 tahun, tekanan darah > 170/95 mmHg.
Data Joint National Committee on Prevention detection, Evaluation, and Treatment on High Blood Pressure 7 mengungkap, penderita hipertensi di seluruh dunia mendekati angka 1 miliar. Artinya, 1 dari 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi. Lebih dari separuh atau sekitar 600 juta penderita, tersebar di Negara berkembang, termasuk Negara Indonesia. Angka ini menunjukkan, hipertensi bukan hanya masalah Negara-negara maju.
Data WHO menyebutkan, dari setengah penderita hipertensi yang diketahui hanya seperempatnya (25%) yang mendapat pengobatan. Sementara hipertensi yang diobati dengan baik dengan hanya 12,5 persen. Padahal, hipertensi menyebabkan rusaknya organ-organ tubuh seperti ginjal, jantung, hati, mata kelumpuhan organ-organ gerak.
Hipertensi baru bias diketahui dari hasil pengukuran tekanan darah. Tekanan darah dinyatakandalam dua angka, yaitu sistolik dan diastolic. Angka sistolik (atas) menggambarkan tekanan dalam pembuluh darah arteri saat jantung berkontraksi dan memompa darah ke dalam aorta, sedangkan angka diastolic (bawah) menunjukkan tekanan dalam pembuluh darah saat jantung istirahat di antara dua denyutan dan terisi darah. Pencatatan hasil pengukuran tekanan darah angka sistolik di atas angka diastolic. Tekanan darah normal bila angka sistolik kurang dari 120 mmHg dan angka diastolic di bawah 80 mmHg (Budi Sutomo, 2009).
Hipertensi diklasifikasikan dalam beberapa kategori. World Health Organization (1991-1999) mengklasifikasikan hipertensi menjadi 3 kelompok, yakni hipertensi ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat. Karena ketiga kelompok tersebut memiliki risiko komplikasi sama besar, maka kategori WHO tidak lagi digunakan. panduan tentang hipertensi didasarkan pada criteria Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment 7 (JNC 7)

Table 1. Klasifikasi JNC 7 (2004)
Kategori
Tekanan Darah (mmHg)
Optimal
Normal
Borderline
Hipertensi
Stadium 1
Stadium 2
Stadium 3
<120/80
120-129/80-84
130-139/85-89
≥140/90
140-159/90-99
160-179/100-109
≥180/110
Sumber : Joint National Committee on Prevention detection, Evaluation, and Treatment on High Blood Pressure 7.

JNC mengeluarkan klasifikasi terbaru JNC 7 di tahun 2004 yang saat ini digunakan di Amerika serikat. Kategorinya lebih dipersempit dan dimasukkan satu kategori baru, yaitu prehipertensi. Tekanan darah dengan sistolik 120-139 mmHg dan diastolic 80-89 mmHg digolongkan prehipertensi. Seseorang yang masuk dalam kategori ini belum termasuk hipertensi. Klasifikasi ini menunjukkan seseorang berisiko tinggi menjadi penderita hipertensi. Prehipertensi merupakan peringatan agar calon penderita hipertensi segera mengubah gaya hidup agar tekanan darah menurun sehingga perkembangan penyakit bisa di cegah atau diperlambat.


b.    Penyebab Hipertensi
Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam. Peda kebanyakan pasien etiologi patofisiologinya tidak diketahui (essensial aatu hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat dikontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi sekunder; endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara potensial (Depkes RI,2006).
Menurut Prof. Dr. Kebo (2008), 95% penderita hipertensi tergolong yang primer.
1)    Yang tidak jelas penyebabnya, penyebab hipertensi primer (esensial) sampai saat ini masih spekulatif, termasuk di dalamnya adalah :
1)    Aktifitas saraf simpatis yang berlebihan,
2)    Obesitas (kegemukan),
3)    Makan tinggi garam (termasuk mono-sodium glumate),
4)    Makanan yang diawetkan,
5)    Stress,
6)    Rokok, kopi, dan minuman berakohol,
7)    Makanan yang bersifat panas, seperti daging kambing dan durian,
8)    Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh, kolesterol tinggi,
9)    Kehidupan sedentary (kurang bergerak),
10) Faktor genetis (riwayat keluarga) dan usia.
Faktor genetik dan usia tidak bias diubah, sedangkan faktor lainnya dapat diubah. Penyakit ini menyebabkan jantung koroner dan stroke.
2)    Yang diketahui penyebabnya, atau yang disebut hipertensi primer. Penyebeb hipertensi sekunder, antara lain penyakit ginjal, tumor kelenjar suprarenalis, kelainan hormonal, atau pembuluh darah. Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial, penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan kependerita hipertensi esensial.
Menurut Dr. Yekti Susilo dan Ari Wulandari (2011) yang menyebakan terjadinya hipertensi secara umum. Salah satu saja mengenai tubuh kita maka dengan mudah kita akan menderita hipertensi, yaitu :
a)    Toksin
Toksin adalah zat-zat sisa pembuangan yang seharusnya dibuang karena bersifat racun. Dalam keadaan biasa, hati kita akan mengeluarkan sisa-sisa pembuangan melalui saluran usus dan kulit. Sementara ginjal mengeluarkan sisa-sisa pembuangan melalui saluran kencing atau kantong kencing. Penyakit yang paling biasa diderita akibat penumpukan toksin dalam tubuh adalh filek, flu, dan bronchitis. Penumpukan toksin pada bagian yang berlainan pada tubuh akan menyebabkan penyakit-penyakit yang berbeda-beda, termasuk hipertensi. Hal tesebut menyebabkan pembesaran jantung dan selanjutnya mengakibatkan penyakit jantung. Sementara itu, tekanan yang dilakukan terhadap saluran darah akan mengakibatkan tekanan darah tinggi.

b)    Faktor genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga tersebut mempunyai risiko menderita hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai risiko dua kalilebih besar untuk menderita hipertensi dari pada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Ada baiknya kita mulai sekarang kita memeriksa riwayat kesehatan keluarga sehingga kita dapat melakukan antisipasi dan pencegahan.
c)    Umur
Kepekaan terhadap hipertensi akan meningkat seiring dengan betambahnya umur seseorang. Individu yang berumur di atas 60 athu, 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya.
d)    Jenis kelamin
Setiap jenis kelamin memiliki struktur organ dan hormon yang berbeda. Demikian juga pada perempuan dan laki-laki. Berkaitan dengan hipertensi, laki-laki mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal. Laki-laki juga mempunyai risiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskiluer. Sedangkan pada perempuan, biasanya lebih rentan terhadap hipertensi ketika mereka sudah berumur di atas 50 tahun. Sangatlah penting bagi kita untuk menjaga kesehatan sejak dini. Terutama mereka yang memiliki sejarah keluarga terkena penyakit.
e)    Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang kulit hitam dari pada yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya, tetapi pada orang kuli hitam ditemukan kadar rennin yang lbih rendah dan sensitivitas terhadap vasopressin yang lebih besar.
b)    Stress
Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Stres merupakan respon tubuh yang sifatnya non- spesifik terhadap setiap tuntunan beban atasnya. Terdapat beberapa jenis penyakit yang berhubungan dengan stres yang dialami seseorang, diantaranya hipertensi atau peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Stres yang dialami seseorang akan membangkitkan saraf simpatetis yang akan memicu kerja jantung dan menyebabkan peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, bagi mereka yang sudah memiliki riwayat sejarah kesehatan penderita hipertensi, disarankan untuk berlatih mengendalikan stres dalam hidupnya.
c)    Kegemukan (obesitas)
Kegemukan (obesitas) juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berat, salah satunya hipertensi. Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun normotensi. Yang sangat mempengaruhi tekanan darah adalah kegemukkan pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut atau kegemukan terpusat (obesitas sentral).
d)    Nutrisi
Sodium adalah penyebab penting terjadinya hipertensi primer. Asupan garam tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan menigkatkan tekanan darah. Asupan garam tinggi dapat menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi yaitu lebih dari 14 gram per hari atau jika dikonversi ke dalam takaran sendok makan adalah lebih dari 2 sendok makan. Bukan berarti kita makan garam 2 sendok makan setiap hari tetapi garam tersebut terdapat dalm makanan-makanan asin atau gurih yang kita makan setiap hari.
e)    Merokok
Merokok merupakan faktor risiko yang potensial untuk ditiadakan dalm upaya melawan arus peningkatan hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia.
f)     Narkoba
Mengkonsumsi narkoba jelas tidak sehat. Karena narkoba tidak ada sedikitpun kebaikannya. Penyakit kecanduan narkoba kelihatannya sepele tetapi sangat mematikan. Efek buruk yang ditimbulkannya sangatlah besar. Itulah sebabnya mendeteksi keberadaan hipertensi sejak dini sangat diperlukan. Tentu saja juga harus diimbangi dengan pola hidup sehat.
g)    Alkohol
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga akan memicu tekanan darah seseorang. Menghentikan kebiasaan mengkonsumsi alkohol sangatlah baik, tidak hanya bagi hipertensi kita tetapi juga untuk kesehatan kita secara keseluruhan.
h)    Kafein
Kandungan kafein selain tidak baik pada tekanan darah dalam jangka panjang, pada orang-orang tertentu juga menimbulkan juga menimbulkan efek yang tidak seperti tidak bisa tidur, jantung berdebar-debar, sesak nafas, dan lain-lain.
i)     Kurang Olahraga
Dengana adanya kesibukan yang luar biasa, manusia pun merasa tidak punya waktu lagi untuk berolahraga. Akibatnya, kita menjadi kurang gerak dan kurang olahraga. Kondisi inilah yang memicu kolesterol tinggi dan juga adanya tekanan darah yang terus menguat sehingga memunculkan hipertensi.
j)      Kolesterol Tinggi
Kandungan lemak yang berlebihan dalam darah dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat.
c.    Patofisiologi
Dimulai dengan atheroklerosis, gangguan struktur anatomi pembuluh darah peripher yang berlanjut dengan kekakuan pembuluh darah. Kekakuan pembuluh darah disertai dengan penyempitan dan kemungkinan pembesaran plaque yang menghambat gangguan peredaran darah peripher. Kekakuan dan kelambanan aliran darah menyebabkan beban jantung bertambah berat yang akhirnya dikompensasi dengan peningkatan upaya pemompaan jantung yang memberikan gambaran peningkatan tekanan darah dalm sistem sirkulasi (Bustan, 2007).
d.    Komplikasi Hipertensi
Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan mempecepat atherosclerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk rusaknya organ tubuh seperti jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh darah besar. Hipertensi adalah faktor risiko utama untuk penyakit serebrovaskuler (stroke, transient ischemic attack), penyakit arteri koroner (infark miokard, angina), gagal ginjal, dementia, dan atrial fibrilasi. Bila penderita hipertensi memiliki faktor-faktor risiko kardiovaskularlain, maka akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat gangguan kardiovaskulernya tersebut. Menurut studi Framingham, pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan risiko yang bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer, dan gagal jantung (Depkes RI, 2006).

Tabel 2. Faktor-faktor Risiko kardiovaskular menurut Departemen Kesehatan RI, 2006  adalah :
faktor risiko mayor
            hipertensi
            merokok
            obesitas (BMI = 30)
            immobilitas
            dislipidemia
            diabetes mellitus
mikroalbuminura atau perkiraan GFR<60 ml/min umur (>55 tahun untuk laki-laki, >65 tahun untuk perempuan)
Riwayat keluarga untuk penyakit kardiovaskular prematur (laki-laki <55 tahun atau perempuan <65 tahun)

Kerusakan organ target
Jantung :           Left ventricular hypertrophy
                        Angina atau sudah pernah infark miokard
                        Sudah pernah revaskularisasi koroner
                        Gagal jantung
Otak :               stroke atau TIA
Penyakit ginjal kronis
Penyakit arteri perifer
Retinopathy

BMI = Body Mass Index; GFR = Glomerular Filtration Rate; TIA = Transient Ischemic Attack.
           
 
                       










Sumber : faktor-faktor risiko kardiovaskular menurut Depkes RI, 2006.

2.    Konsep Diet Hipertensi
a.    pengertian
Diet hipertensi merupakan pengurangan konsumsi natrium, tinggi serat, kolesterol, agar penurunan tekanan darah lebih optimal. Yang dimaksud diet ini adalah memperbanyak konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan produk susu rendah lemak untuk menurunkan tekanan darah. Makanan yang dikonsumsi pun lebih kaya serat dan mineral yang bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah (kalium, magnesium, dan kalsium). Kalium bekerja mengatur keseimbangan jumlah natrium dalm sel. Kalsium dan magnesium bermanfaat secara tidak langsung untuk membantu mengendalikan hipertensi (Budi Sutomo, 2009).
Gizi atau nutrisi dikenal masyarakat umum sebagai suatu ilmu yang berkecimpung dalam hal masalah atau makanan, padahal sebenarnya gizi bukan hanya sekedar mengatasi perihal makanan namun hubungan antara makanan dengan kesehatan (Gunawan A, 2001).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kekurangan nutrisi adalah alasan ekonomi, pendidikan, status sosial, anatomi fisiologi pencernaan dan status psikologi. Dalam hal ini, pengkajian nutrisi pada penderita hipertensi meliputi pengkajian berat badan dan pola makan (Nurachmah, 2001). Faktor gizi yang sangat berhubungan dengan terjadinya hipertensi melalui beberapa mekanisme. Aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya hipertensi yang berhubungan dengan diet seseorang, walaupun faktor usia juga berperan, karena pada usia lanjut (usila) pembuluh darah cenderung menjadi kaku dan elastisitasnya berkurang.Pembuluh yang mengalami sklerosis (aterosklerosis), resistensi dinding pembuluh darah tersebut akan meningkat. Hal ini akan memicu jantung untuk meningkatkan denyutnya agar aliran darah dapat mencapai seluruh bagian tubuh.
Menurut C.Linder, masih menjadi perdebatan kontroversi tentang pengaruh faktor diet dan cara hidup tehadap terjadinya aterosklerosis. Namun dari beberapa kecenderungan menyatakan bahwa:
a.    Terjadinya plak (Plaque) aterosklerosis merupakan suatu respon dari cidera pada dinding ateri terhadap kerusakan yang dibentuk oleh lapisan epitel. Plaque tersebut menonjol kearah lumen dan menyebabkan pengurangan aliran darah dan elastisitas pembuluh darah. Ini akan menyebabkan terbentuknya trombus yang oklusif (pembekuan) dan dapat menyebabkan stroke.
b.    Serat makanan, dan beberapa mikronatrium lainya (vitamin dan mineral) mungkin penting dalam pencegahan jangka panjang atau memperlambat aterosklerosis. Selain itu konsumsi tinggi kolesterol dan lemak yang memicu terjadinya aterosklerosis. Lemak jenuh adalah penentuan utama peningkatan kadar kolesterol, sehigga dianjurkan untuk menurunkan asupan lemak jenuh <10% asupan total energi dengan membatasi asupan makanan kaya asam lemak jenuh (susu tinggi lemak dan produknya, daging berlemak serta daging kelapa). Pada orang dengan kadar kolesterol LDL tinggi atau dengan penyakit kardio vaskuler, lemak jenuhnya harus rendah (<7% total energi).
Faktor-faktor penyebab cenderungnya dinding pembuluh darah antara lain cedera mekanis, panas atau dingin, zat-zat kimia, virus, homosistein dan kolesterol. Pada penderita kelebihan berat badan (obesitas) umumnya memiliki kadar lipid darah yang tinggi, makin besar cadangan lemak tubuhnya, makin tinggi kadar lipid darahnya dan sebaliknya. Selain itu lipid memiliki efek metabolisme yang dapat menyebabkan hipertensi (BKM, 2001). Penelitian Flamingham cit BKM (2001) menunjukkan bahwa orang yang obsitas (kelebihan 20% dari berat badan normal akan mengalami peluang hipertensi 10 kali lebih besar).
Piramida makanan di bawah ini menggambarkan komposisi makanan yang dianjurkan pada penderita hipertensi :

Minyak, santan, lemak
Jeroan, margarine, susu dan produk susu
Daging merah, kuning telur
Daging putih (ikan) putih telur
Kacang-kacangan
Buah
Sayuran
umbi-umbian serta hasil olahannya                                             
  dikutip dari : Pedoman makanan untuk Kesehatan Jantung Indonesia, 2002
Menurut Ir. Padmiarso M. Wijoyo untuk mencegah hipertensi yang perlu dilakukan adalah melalui pengontrolan gaya hidup, antara lain :
1.    Mengatur pola makan
Perbanyaklah minum air putih. Cara makan yang baik adalah sedikit-sedikit tapi sering, bukan makanan banyak tetapi jarang. Kandungan zat dalam menu makanan juga harus diperhatikan, meliputi :


a)    Diet rendah garam
Asupan garam yang diperlukan pada orang sehat sekitar 3-5 gram (setara 1 sendok the) per hari. Jika tubuh banyak berkeringat, sering buang air kecil serta diare, memerlukan asupan garam yang lebih. Kelbihan garam dapat menyebabkan hipertensi, risiko dehidrasi dank ram, darah mengental (penyebab penyakit jantung dan stroke), mengikat cairan yang banyak serta dapat mengendap di pergelangan kaki dan daerah tengah tubuh.
Diet rendah garam diperlukan terutama pada orang yang punya potensi tinggi hipertensi, dapat dilakukan dengan cara:
1)    Gunakan garam sebagai bumbu masakan secukupnya saja, perbanyak rempah dan kurangi garam.
2)    Jangan menambah garam pada hidangan yang siap santap. Jauhakn garam dari meja makan.
3)    Kurangai minuman bersoda, minuman kaleng dan botol. Minuman bersoda dan pengawet banyak mengandung sodium (Natrium).
4)    Kurangi makan daging, ikan, kerang, kepiting, dan susu, camilan/snack yang asin dan gurih.
5)    Hindari makan makanan ikan asin, telur asin, otak, vetsin (monosodium glutamate/MSG), soda kue, jeroan, sarden, udang, dan cumi-cumi.
6)    Konsumsi makanan yang dianjurkan, seperti sayuran segar, buah segar, tempe, tahu, kacang-kacangan, ayam, dan telur.


b)    Diet rendah kolesterol
Makanan yang dimakan sebaiknya mengadung lemak jahat seperti kolesterol (menurunkan HDL).  Diet rendah kolesterol dapat dilakukan dengan cara:
1)    Kurangi makan makanan yang mengandung gula murni, daging, ayam, kuning telur, dan sarden.
2)    Hindari makan makanan seafood, otak, jeroan, lemak hewani, mentega, susu full cream.
3)    Makanan yang dianjurkan meliputi sayuran, buah, minyak nabati (kecuali minyak kelapa), putih telur, iakn, kacang - vkacangan dan minyak zaitun. Jika sudah mencapai berat badan ideal, jangan melakukan diet terlalu keras. Imbangi dengan pola makan sehat, mengandung sumber energy, pembangun tubuh, pelindung serta pengatur tubuh. Sumber energi ideal adalah 12-15% lemak dan 50-60% karbohidrat.
Hasil studi DASH juga menunjukkan bahwa pola diet yang bertitik berat pada buah-buahan, sayur-sayuran, dan produk-produk berkandungan lemak rendah, serta mengurangi jumlah lemak, daging, manisan, dan minuman yang mengandung gula (selanjutnya disebut diet kombinasi DASH), menurunkan tekanan darah secara signifikan. Kombinasi DASH pada penduduk Amerika mempunyai implikasi kesehatan masyarakat yang besar, dimana dengan diet kombinasi DASH maka diperkirakan akan terjadi penurunan insiden penyakit jantung koroner sebesar 15% dan stroke 27%. Studi-studi observasional dan random lainnya menunjukkan bahwa reduksi tekanan darah diastolik sebesar 2 mmHg menghasilkan penurunan prevalensi hipertensi sekitar 17%, reduksi penyakit jantung koroner sebesar 6%, dan reduksi resiko stroke sebesar 15% (JNC VII, 2004).

3.    Konsep Lansia
1.    Pengertian
Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik, kejiwaan dan sosial (UU No23 Tahun 1992 tentang kesehata).Pengertian dan pengelolaan lansia menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun1998 tentang lansia sebagai berikut :
a)    Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas.
b)    Lansia usia potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
c)    Lansia tak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya tergantung pada bantuan orang lain.
2.    Batasan Lansia
a)    Pra Usia Lanjut (presenilis)
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b)    Usia lanjut
Seorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Usia lanjut adalah tahap perkembangan masa tua dalam perkembangan individu (usia 60 tahun keatas). Sedangkan lanjut usia adalah sudah berumur atau tua.



c)    Usia Lanjut Resiko Tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
d)    Usia Lanjut Potensial
Usia lanjur yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.
e)    Usia Lanjut Tidak Potensial
Usia lanjut yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
3.    Proses Menua
Aging process atau proses menua merupakan suatu proses biologis yang tidak dapat dihindarkan, yang akan dialami oleh setiap orang. Menua adalah suatu proses menghilangnya sacara perlahan-lahan kemampuan jarinagan untuk memperbaiki diri ayau mengganti dan mempertahankan struktur dan fungsi secra normal, kethanan terhadap injury termasuk adanya infeksi (constantinedes, 1994). Proses penuaan sudah mulai berlangsung sejak seorang mencapai dewasa,misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh 'mati' sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batasan yang tegas, pada usia berapa kondisi kesehatan seseorang memulai menurun. Setiap orang memiliki fungsi fisiologis alat tubuh yang sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak fungsi tersebut maupun saat menurunnya. Umumnya fungsi pisiologis tubuh hal. Pencapai puncakna pada usia 20-30 tahun. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai bertambahnya usia (mubarak, 2009 : 146).

4.    Teori penuaan
a.    Teori Biologis
pada tahun 1993, Mary. Ann Christ et al. (lihat Hardywinoto dan Toni Setiabudi, 1999) menyatakan bahwa penuaan merupaaln proses berangsur-angsur yang mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan mengakibatkan perubahan yang berakhir dengan kematian, Penuaan juga menyangkut perubahan struktur sel, akibat interaksi sel dengan Iingkungannya, yang pada akhirnya menimbulkan perubahan generatif. Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik berarti perubahan ynng timbul akibat penyebab di dalam sel sendiri, sedang teori ekstrinsik menjelasktrn bahwa perubahan yang terjadi diakibatkan pengaruh lingkungan, Penuaan menurut teori biologis di antaranya adalah sebagai berikut.(mubarak, 2009)
1)    Teori Genetik Clock
Meurut teori ini menua telah terpogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Tiap spesies di dalam inti selnya mempunyai suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi tersebut. Jadi, menurut konsep ini bila jam kita ini berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan. lingkungan atau penyakit. Secara teoretis dapat dimungkinkan memutar jam ini  lagi meski hanya beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa Peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obatan, atau dengan tindakan tertentu.

2)    Teori Mutiisi Somatik (Error Catastrophe Theory)
Menurut teori ini penuaan disebabkan oleh kesalahan yang beruntun dalarn jangka waktu lama melalui trankripsi dan translasi. Kesalahan  tersebut menyebabkan terbentuknya enzim yang salah dan berakibat pada metabolisme yang salah, sehingga mengurangi fungsional sel. Meskipun dalam batas-batas tertentu, kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan memperbaiki diri terbatas pada transkripsi, yang tentu akan menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim, sehingga menimbulkan metabolit berbahaya. Sernakin banyak kesiilahan pada translasi, maka kesalahan yang terjadi juga akan semakin banyak.
3)    Teori Autoimun (Auto Immune theory)
Menurut teori ini proses metaboiisme tubuh suatu saat akan memproduksi zat khusus. Ada jaringan tubuh terterrtu yang tidak  tahan terhadap suatu zat, sehingga jaringan tubuh rnerjadi lemah dan sakit Sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada usia dewasa akan berinvolusi kemudian semenjak itu terjadilah kelainan autoimun (Godteris & Brocklehurst, 1989).
4)    Teori  Radikal Bebas
Menurut teori ini penuaan disebabkan adanya radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas. Tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) yang masuk ke dalam tubuh akan mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organik, seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini akan menyebabkan sel tidak dapat beregenerasi. Radikal bebas yang ada di dalam tubuh bersifat merusak juga dapat dinetralkan dalarn tubuh oleh enzim atau senyawa non-enzim, misalnya vitamin C betakorotirn dan vitamin E.
5)    Pemakaian dan Rusak
Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh rusak.
6)    Teori virus yang Perlahan-lahan Menyerang sistem kekebalan Tubuh (immunology slow Virus Theory)
Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat dari sistem imun yang kurang efektif seiring dengan bertambahnya usia. Masuknya virus ke dalam tubuh dapat  menyebababkan kerusakan pada organ tubuh.
7)    Teori Stres
Menurut teori ini penuaan terjadi akibat hilangnya se1-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertirhankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha, dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
8)    Teori Rantai Silang
Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat adanya rearksi kimia sel-sel yang tua atau yang telah usang menghasilkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan  ini menyebabkan  jarigan menjadi kurangnya elastis, kaku, dan hilangnya fungsi.
9)    Teori Program
Menurut teori ini penuaan terjadi karena kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

b.    Teori Kejiwaan Sosial
Berikut ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung teori kejiwaan sosial.
1)    Aktivitas atau kegiatan (Activity Theory)
a)    Teori aktivitas, menurut Hiivighusrst dan Albrecht (1953) barpendapat bahwa sangat penting bagi lansia untuk tetap beraktivitas dan mencapai kepuasan hidup.
b)    ketentuan akan meningkatnya penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa lansia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut dalam banyak kegiatan sosial.
c)    Ukuran optimal (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lansia.
d)    Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke usia lanjut.
2)    Teori kepribadian Berlanjut  ( continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada usia lanjut. Teori ini merupakan gabungan dari teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang berusia lanjut sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang dimliki.
3)    Teori Pembebasan (Disengagem ent Theory)
Salah satu teori sosial yang berkenaan dengan proses penuaan adalah "teori pembebasan atau disengagement theory". Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lansia menurun, baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga seringg terjadi kehilangan ganda (tripple loss). Definisi kehilangan ganda adalah sebagai berikut :
a)    kehilalangan peran (loss of role).
b)    Hambatan kontak sosial (restraction of contacts and relationships).
c)    Berkurang nl,a komitmen (social mores and values).
c.    Teori Psikologi
Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada. Teori tugas perkembangan yang diungkapkan oleh Hanghurst (1972) adalah bahwa setiap individu harus meperhatikan tugas perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan meniberikan Perasaan bahagia dan sukses. Tugas perkembangan yang spesifik ini bergantug pada maturasi fisik, pengharapan kultural, masyarakat, nilai aspirasi individu. Tugas perkembangan pada dewasa tua meliputi: penerimaan adanya penurunan kekuatan fisik dan kesehatan, penerimaan masa pension dan penurunan pendapatan, respons penerimaan adanya kematian pasangan atau orang-orang yang berarti bagi dirinya, mempertahankan hubungan dengan kelompok yang sesuai, adopsi dan adaptasi dengan peran sosial secara fleksibel, serta mempertahankan kehidupan secara memuaskan. (chayatin, 2009 : 148)
d.    Teori Kesalahan Genetik
Menutut dr. Afgel bahwa proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetik DNA di mana sel genetik memperbanyak diri (ada yang memperbanyak diri sebelum pembelahan sel), sehingga mengakibiitkan kesalahan-kesalahan yang berakibat pula pada terhambatnya pembentukan sel berikutnya, sehingga mengakibatkan kematian sel. Pada saat sel mengalami kematian orang akan tampak menjadi tua.  (chayatin, 2009 : 148)
e.    Teori Rusaknya  Sistem lmun Tubuh
Mutasi yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan sistem imun untuk mengenali dirinya berkurang (self recognitlon), sehingga mengakibatkan kelainan pada sel karena dianggap sel asing yang membuat hancurnya kekebalan tubuh. Inilah yang disebut dengan peristiwa autoimun.
f.      Teori Penuaan Akibat Metabolisme
Teori penuaan akibat metabolisme menjelaskan bagaimana proses menua terjadi.
1)    Datang dengan sendirinya, merupakan "karunia' yang tidak bisa dihindari/ditolak.
2)    Usaha dalam memperlambat menjadi awet tua.
3)    WHO (1982) usia lanjut yang berguna, bahagia, dan sejahtera (Mubarak, 2009 :149 ).
5.    Perubahan yang terjadi pada lansia
a.    Perubahan Kondisi Fisik
Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi: perubahan dari tingkat sel sampai ke semua sistem organ tubuh, di antaranya sistem pernapasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskular, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, urogenital, endokrin, dan integumen.
Masalah fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia di antaranya lansia mudah jatuh, mudah lelah, kekacauan mental akut, nyeri pada dada, berdebar-debar, sesak napas pada saat melakukan aktivitas atau kerja fisik, pembengkakan pada kaki bawah, nyeri pinggang atau punggung, nyeri sendi pinggul, sulit tidur, sering pusing, berat badan mednuruun, gangguan  pada fungsi penglihatan, pendengaran, dan sulit menahan kencing.
b.    Perubahan Kondisi Mental
Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. perubahan-  perubahan mental ini erat sekali kaitannya dengan perubahan fisik, keadaan kesehatan tingkat pendidikan atau pengetahuan, dan situasi lingkungan. Intelegensi diduga secara umum makin mundur terutama faktor penolakan abstrak, mului lupa terhadap kejadian baru, masih terekam  baik kejadian masalalu  dari segi mental dan emosional sering muncur perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman dan cemas. Adanya kekacauan mental akut, merasa terancam akan timbulnya suatu penyakit atau takut ditelantarkan karena tidak berguna lagi. Munculnya Perasaan kurang mampu untuk mandiri serta cenderung bersifat introvert.
c.    Perubahan  Psikososial
Masalah perubahan psikososial serta reaksi individu terhadap perubahan ini sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan. Orang yang telah menjalani kehidupannya dengan bekerja, mendadak dihadapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun.
Perubahan psikososial yang lain adalah merasakan atau sirdar akan kematian, perubahan cara hidup mernasuki rumah  perawatan, penghasilan menurun, biaya hidup meningkat, tambahan biaya pengobatan penyakit kronis, ketidak mampuan, kesepian akibat pengasingan diri dari lingkungan sosial, kehilangan hubungan dengan teman dan keluarga, hilangnya kekuatan dan ketegangan fisik, perubahan konsep diri, serta kematian pasangan hidup.
Perubahan yang menjadikan dalam kehidupan akan membuat mereka merasa kurang melakukan kegiatan yang berguna, perubahan yang mereka alami di antaranya adalah sebagai berikut :
1)    Minat. Pada umumnya pada masa usia lanjut minat seseorang akan berubah dalam kuantitas maupun kualitasnya. Lazimnya  minat dalam aktivitas fisik cenderung menurun dengan bertambahnya usia. Perubahan minat pada lansia jelas berhubungan dengan menurunnya kemampuan fisik, tidak dapat diragukan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial.
2)    Isolasi dan kesepian. Banyak  faktor bergabung, sehingga membuat orang berusia lanjut terisolasi dari yang lain. Secara fisik, mereka kurang mampu mengikuti aktivitas yang melibatkan  usaha. Makin menurunnya kuaalitas organ indra yang mengakibatkan ketulian, penglihatan yang makin kabur, dan  sebagainya. Selanjutnya membuat lansia merasa terputus dari hubungan dengan orang-orang 1ain. Faktor lain yang membuat isolasi semakin menjadi lebih parah adalah perubahan sosial, terutama meregangnya ikatan kekeluargaan. Bila lansia tinggal bersama sanak saudaranya, mereka mungkin bersikap toleran terhadapnya, tetapi jaraang rnenghormatinya. Lebih sering terjadi lansia menjadi terisolasi dalam arti kata yang sebenarnya, karena ia hidup sendiri. Semakin 1anjut usianya, kemampuan mengendalikan perasaan dengan akal akan melemah, dan orang cenderung kurang dapat mengekang dari dalam perilakunya. Frustrasi kecil pada tahap usia yang lebih muda tidak rnenimbulkan masalah, pada tahap ini membangkitkan luapan emosi dan mereka mungkin bereaksi dengan ledakan amarah atau sangat tersinggung terhadap peristiwa-peristiwa yang menurut kita sepele.
3)    Peranan iman. Menurut  proses fisik dan mental, pada usia lanjut memungkinkan orang yang suhah tuli tidak begitu membenci dan merasa khawatir dalam memandang akhir kehidupan dibanding orang yang lebih muda. Namun demikian, hampir tidak dapat disangkal bahwa iman yang teguh adalah senjata yang paling ampuh untuk melawan rasa takut terhadap kematian. Usia lanjut memang merupakan masa di mana kesadaran religius dibangkitkan dan diperkuat. Keyakinan  iman yang menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir, tetapi merupakan permulaan yang baru memungkinkan individu menyongsong akhir kehidupan dengan tenang dan tentram.
d.    Perubahan Kognitif.
Perubahan pada fungsi kognitif di antaranya adalah kemunduran pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang memerlukan memori jangka pendek, kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran, dan kemampuan verbal dalarn bidang vocabulary (kosa kata) akan menetap bila tidak ada penyakit yang meryertai.
e.    Perubahan spiritual.
Perubahan yang terjadi pada aspek spiritual lansia adalah sebagai berikut.
1)    Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya (Maslow, 1970).
2)    Usia lanjut makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam cara berpikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970).
3)    Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Fowler adalah universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan bersikap adil.
f.      Faktor yang Mempengaruhi Penuaan dan Penyakit Yang Sering Dijumpai
a.    Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan dan penyakit yang sering terjadi pada lansia.
1)    Hereditas atau keturunan genetik
2)    Nutris atau makan
3)    Status perkawinan
4)    Pengalaman hidup
5)    Lingkungan dan,
6)    Stres
b.    Penyakit yang sering dijumpai pada usia lanjut
Menurut the tational old people’s welfare council, penyakit lansia, yaitu :
1)    Depresi mental
2)    Gangguan pendengaran
3)    Brinkhitis kronis
4)    Gangguan pada tungkai atau sikap berjalan
5)    Gangguan pada koksa atau sendi panggul
6)    Anemia
7)    Dimensia


4.    Konsep Keluarga
a.    Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak ibu, adik, kakak dan nenek (Raisner, 1980).
Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan kumpulan dari beberapa komponen yang saling berinteraksi satu dengan lainnya (Logan’s, 1979).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya, 1978).
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1988).
b.    Tipe Keluarga
                  Ada tipe keluarga menurut jhonson. L dan Lenny. R, 2010 yaitu:
1)    Keluarga inti, yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak.
2)    Keluarga conjugal, yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak-anak mereka, dimana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu dua pihak orang tua.
3)    Selain itu terdapat juga keluarga luas yang tertarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas ini meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
c.    Tugas keluarga
1)    Tugas-tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang untuk dapat mencapai tujuan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, keluarga mempunyai tugas dalam pemeliharaan kesehatan para anggotanya dan saling memelihara (Freeman, 1981), yaitu :
a)    Mengenal masalah kesehatan tiap anggotanya untuk mengetahui kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan.
b)    Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga, sejauh mana kemampuan keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga.
c)    Memberikan perawatan anggota keluarga yang sakit, cacat atau usia yang terlalu muda, untuk mengetahui sejauhmana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
d)    Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
e)    Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga kesehatan.
2)    Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok menurut, jhonson. R dan Lenny. L sebagai berikut :
a)    Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
b)    Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
c)    Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
d)    Sosialisasi antar anggota keluarga.
e)    Pengaturan jumlah anggota keluarga.
f)     Pengaturan jumlah anggota keluarga.
g)    Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
h)    Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.
3)    Fungsi keluarga
Dalam kehidupan sehari-hari fungsi keluarga dapat kita lihat dan sekaligus sudah dapat diterapkan oleh masyarakat atau kelompok keluarga. Adapun fungsi yang dijalankan keluarga adalaha sebagai berikut :
b)    Fungsi pendidikan, dilihat dari bagaimana keluarga memndidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
c)    Fungsi sosialisasi, anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
d)    Fungsi perasaan, dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesame anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
e)    Fungsi perlindungan, dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
f)     Fungsi agama, dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
g)    Fungsi ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga.
h)    Fungsi rekreatif, dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
i)     Fungsi biologis, dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman diantara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga (Lenny. R, 2010 :9)

5.    Pengetahuan
            Pengetahuan adalah kesan di dalam fikiran-fikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya yang berbeda sekali dengan kepercayaan, takhayul dan penerangan yang keliru (Soekanto, 2000 ).
            Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu yaitu melalui panca indera manusia, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003 ).
            Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk mengubah perilaku seseorang yang disengaja. Menurut teori Sigmund Freud, salah satu aspek perkembangan manusia adalah perkembangan kognitif. Hal ini merujuk pada proses internal dari produk pikiran manusia yang mengarah pada konsep mengetahui termasuk di dalamnya semua aktifitas mental seperti mengingat, menghubungkan, mengklasifikasi, memberi simbol, mengimajinasi, pemecahan masalah, penalaran persepsi, berkreasi, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang baru (Effendi, 1998).
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat menurut Bloom cit Notoatmodjo (2003), yaitu:
a.    Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan dan sebagainya.
b.    Paham diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi harus harus dapat menjelaskannya.
c.    Aplikasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi nyata.
d.    Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih terkait satu sama lain. Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
e.    Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi.
Pengetahuan merupakan dasar konseptual dan rasional terhadap metode pendekatan yang dipilih untuk mencapai tujuan keperawatan yang spesifik dan tepat (Notoatmodjo, 2003).

6.    Kerangka Teori
Menurut C.Linder, masih menjadi perdebatan kontroversi tentang pengaruh faktor diet dan cara hidup tehadap terjadinya Hipertensi.
Bagan 2.1
faktor diet :
-       Terjadinya plak aterosklerosis
-       Serat makanan
Kerangka Teoritis
penyebab hipertensi
1)     Makan tinggi garam
2)     Makanan yang diawetkan,
3)     Stress,
4)     Obesitas
5)     Rokok, kopi, dan minuman berakohol,
6)     Makanan yang bersifat panas, seperti daging kambing dan durian,
7)     Faktor genetis (riwayat keluarga) dan usia.
8)     Pengetahuan keluarga*


DIET HIPERTENSI

 

















     Keterangan : (*)  Variabel yang di teliti
     Sumber : Prof. Dr. Kebo dan C. Linder

7.    Kerangka Konsep

Bagan 2.2
Kerangka Kosep
Variabel Independen                                       variabel dependen
pengetahuan keluarga
Diet hipertensi pada lansia
 




8.    Hipotesis
Ada hubungan pengetahuan keluarga terhadap diet hipertensi pada lansia di RT 12 Kelurahan Rawasari kota Jambi.

















BAB III
METODE PENELITIAN
A.   Jenis dan Rancangan penelitan
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan ”cross sectional” dimana data yang menyangkut variabel independen dan variabel dependen di kumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan tekhnik total sampling (apabila responden kurang dari 100 lebih baik populasi di ambil semua) (Ari Kunto, 2006 :136).
B.   Subjek Penelitian
1.    Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni 2012  di Kelurahan Rawasari RT 12.
2.    Populasi
Populasinya adalah keseluruhan keluarga yang memiliki lansia yang ada di Rt 12 Kelurahan Rawasari Jambi Tahun 2012. Sebanyak 38 orang keluarga yang memiliki lansia.
3.    Sampel
Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 38 keluarga yang memiliki lansia. Dengan karakteristik keluarga sebagai berikut :
a.      Jenis kelamin laki-laki / perempuan
b.      Anggota keluarga bersedia menjadi responden
c.      Keluarga mempunyai lansia
d.      Keluarga jujur dan terbuka
4.    Cara Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini cara pengambilan sampel menggunakan total sampling yaitu keseluruhan populasi pada keluarga yang memiliki lansia di Kelurahan Rawasari RT 12 yang  jumlah responden sebanyak 38 lansia untuk di jadikan sampel yang akan di teiti. Apabila responden kurang dari 100 lebih baik populasi di ambil semua (Ari Kunto, 2006 :136).

C.   Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian tentang hubungan  pengetahuan keluarga terhadap diet hipertensi pada lansia, yang menjadi Variabel Independen adalah variabel bebas atau variabel yang bisa mempengaruhi, sedangkan variabel dependen adalah variabel terikat atau yang bisa terpengaruh. Variabel Independen yaitu tingkat pengetahuan keluarga, sedangkan pada Variabel Dependent yaitu diet hipertensi pada lansia.
D.   Definsi Operasional
1)    Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pengetahuan keluarga adalah daya pengenalan diet hipertensi pada lansia. Meliputi tujuan dari diet, kebutuhan protein, karbohidrat, buah-buahan, sayuran serta bahan makanan penukar yang dianjurkan dan makanan yang tidak diperbolehkan bagi penderita hipertensi. Skala pengukuran pada variabel bebas ini adalah skala ordinal dengan menggunakan kuesioner, dan kategori hasilnya pengetahuan penderita hipertensi tentang dietnya baik dan tidak baik.
2)    Diet hipertensi dalam pengertian disini yaitu tindakan menjalani diet hipertensi dalam hal pembatasan konsumsi garam, makanan berlemak, minum berakohol, serta peningkatan konsumsi buah-buahan dan sayuran. Contoh : pengurangan konsumsi makanan yang berlemak atau makanan pengawet. Skala pengukurannya adalah skala ordinal, dan kategori hasilnya adalah pola makan sehat dan pola makan tidak sehat.
Bagan 3.1
Definisi Operasional
Variabel penelitian
Independent
Defenisi operasional
Cara ukur
Alat  ukur
Skala ukur
Hasil ukur
Pengetahuan keluarga
daya pengenalan diet hipertensi pada lansia. Meliputi tujuan dari diet, kebutuhan protein, karbohidrat, buah-buahan, sayuran serta bahan makanan penukar yang dianjurkan dan makanan yang tidak diperbolehkan bagi penderita hipertensi
Wawancara
Kuesioner
Ordinal
1.     tidak baik jika jawaban < mean / median

2.     baik jika jawaban ≥ mean / median


.
Diet Hipertensi
pengurangan konsumsi natrium, tinggi serat, kolesterol, agar penurunan tekanan darah lebih optimal. Yang dimaksud diet ini adalah memperbanyak konsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan produk susu rendah lemak untuk menurunkan tekanan darah.
Wawancara
Kuesioner
Ordinal
1.   tidak dilakukan jika jawaban < mean / median

2.   dilakukan jika jawaban ≥ mean / median
E.   Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, wawancara secara langsung kepada keluarga yang memiliki lansia. Kuesioner digunakan dengan pertanyaan terstruktur untuk melihat pengetahuan keluarga terhadap diet hipertensi pada lansia yang dilihat berdasarkan wawancara dengan kuesioner. Kuesiner penelitian ini telah dilakukan uji validitas dan reability, dengan 10 keluarga yang memiliki lansia diluar wilayah Kelurahan Rawasari.
F.    Pengumpulan Data
a.    Data Primer
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada keluarga yang memiliki lansia dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur. Dan hasil wawancara langsung di catat dalam kuesioner.
b.    Data Sekunder
Pengumpulan data sebagai data penunjang atau pelengkap yang di ambil dari dinas kesehatan kota Jambi dan data kunjungan rawat jalan di poliklinik umum di Puskesmas Rawasari serta data dari kelurahan Rawasari.
G.   Pengolahan Data
Setelah data yang di perlukan terkumpul, maka selanjutnya data tersebut  diolah dengan tahapan sebagai berikut:
a.    Editing
Data yang terkumpul diperiksa dan disusun urutannya serta di lihat apakah ada kesamaan dalam pengisian dan bagaimana kosistensi jawabannya.

b.    Coding
Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka atau bilangan. Kegunaan dari pengkodean adalah untuk mempermudah analisis data dan mempercepat saat entry data. Hasil ukur untuk pengetahuan keluarga  terhadap diet hipertensi di beri nilai sesuai jawaban responden terhadap kuisioner.
c.    Scoring
Menetapkan skor untuk setiap variabel atau pertanyaan
-     Pengetahuan keluarga
Ø  Pengetahuan Baik : skor 2
Ø  Pengetahuan Tidak Baik : skor 1
d.    Entri data
Memasukan data data yang telah dilakukan pengkodean dengan menggunakan komputer pada program data.
e.  Cleaning
Setelah data masuk. Maka selanjutnya dilakukan pengecekan data yang masuk sudah benar atau salah dengan cara melibatkan variasi data dalam bentuk distribusi frekuensi melihat konsistensi data.

H.   Analisis Data
Setelah data di olah menjadi suatu data yang di harapkan (tepat dan konsisten) selanjutnya di lakukan analisa untuk menjawab pertanyaan peneliti.
a.  Analisa univariat
Analisa univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi variabel independent dan variabel dependen.



Rumus yang di gunakan :

P= ____F____ x 100 %
                         N
Ket : P = Persentase
        F = Frekuensi
        N = Jumlah Respon

b.    Analisa bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent dan variabel dependent
Uji statistik yang digunakan adalah uji X2 (uji chi- square). Uji ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan proporsi yang bermakna antara distribusi frekuensi yang di amati dengan di harapkan dengan derajat kemaknaan 0,05.
Bila P-Value ,< 0,05 berarti ada hubungan yang bermakna (Ho di tolak) sedangkan P-Value > 0,05 artinya tidak ada hubungan yang bermakna (Ho diterima).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar